Memanusiakan Patah Hati Tan Malaka Lewat Fiksi
- 02 Feb 2026 07:19 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Ia tersentak ketika novelnya dilabeli “sejarah”. Baginya, sejarah bukan tempat berkhayal. Tapi justru lewat fiksi, ia ingin membuat Tan Malaka terasa lebih manusiawi dan lebih patah hati.
Muhammad Syarafuddin mendadak mengernyit. Nada suaranya mengeras, seolah pewawancara baru saja menyentuh wilayah terlarang. Label “novel sejarah” yang disematkan pada karyanya membuat eks Pemimpin Redaksi sebuah media di Banjarmasin itu tampak terusik.
“Novel itu fiksi.” kata pria yang akrab disapa Iput, akhir Januari 2026.
“Sementara sejarah adalah nonfiksi, masa lalu yang faktual," ujarnya.
Reaksi itu bukan tanpa alasan. Setelah 15 tahun menjadi wartawan, Iput akhirnya menuntaskan karya sastra pertamanya: Patah Hati Tan Malaka. Novel setebal hampir 300 halaman itu diterbitkan Rain Publishing, sudah bisa dipesan secara daring, dan dalam waktu dekat akan menyapa rak-rak toko buku.
Nama-nama besar berhamburan di dalamnya seperti Semaun, Musso, Tjokroaminoto, Sukarno, Sjahrir, hingga Jenderal Sudirman. Semua tokoh nyata dan tercatat dalam sejarah Indonesia. Namun sejak awal, satu pertanyaan terus menghantui pembaca: jika ini novel, di mana letak fiksinya?
“Di kisah cintanya,” ujar Iput singkat menjawab, lalu tersenyum tipis.
“Nama-nama besar tokoh nyata dan tercatat dalam sejarah Indonesia ada di dalamnya," ucapnya.
Dalam otobiografinya Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka memang menyebut beberapa nama perempuan seperti Nona Carmen di Manila dan Gadis AP di Xiamen. Majalah Tempo edisi khusus Bapak Republik yang Dilupakan juga mengungkap romansa Tan dengan Syarifah Nawawi di Bukittinggi dan Paramita Rahayu di Jakarta.
Sejarawan Belanda Harry A. Poeze, yang menghabiskan hidupnya meneliti Tan Malaka, bahkan mencatat sosok Fenny Struijvenberg di Haarlem. Namun, semuanya hanya potongan kecil, tak pernah ada kisah yang benar-benar utuh.
“Tan tidak pernah menceritakan detail hubungan-hubungan itu. Dan itu wajar,” kata Iput.
“Dia buronan politik. Tidak punya waktu untuk bercinta," ujarnya.
Bagi Iput, Tan adalah sosok lelaki kesepian dengan harga diri tinggi. Tak terbayang Tan Malaka curhat soal kegagalan cintanya kepada pembaca di otobiografinya. Kini, dari Balikpapan kota tempat ia menetap, Iput mencoba membangun ulang romansa Tan dengan Syarifah, Fenna, Carmen, AP, dan Paramita.
“Dengan fiksi, saya bisa menambal lubang-lubang dalam kehidupan pribadi Tan yang tak terceritakan oleh sejarawan,” ujarnya.
“Saya ingin menempatkan Tan sebagai manusia biasa yang bisa galau dan butuh sentuhan fisik," katanya.
Keputusan itu berarti satu hal: Iput sadar betul bahwa ia melabrak batas antara fiksi dan nonfiksi. Rute pelarian Tan Malaka di luar negeri ia rombak ulang demi menjaga plot novel. Namun ada garis merah yang tak ia lewati, di mana nama besar Tan Malaka atau Ibrahim (nama aslinya) tetap ia perlakukan dengan hormat.
“Saat mengulas Madilog, saya hanya menyederhanakan intisarinya. Poin-poin pentingnya tidak saya campur dengan fiksi,” katanya.
“Begitu juga ketika menulis bagian Persatuan Perjuangan. Di situ saya sangat berhati-hati. Kendati ini novel, saya tidak berani merusak legasi Tan Malaka untuk bangsa ini," ucapnya.
Soal riset, Iput jujur eaktunya terbatas. Tapi ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia pertama kali membaca Madilog sekitar 16 tahun lalu, saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
“Materialisme, Dialektika, dan Logika itu buku tebal dan berat. Justru di desa kecil itu saya bisa mengkhatamkannya," ujar alumni Fakultas Dakwah IAIN Antasari itu. “
Tapi lucunya saya tidak pernah benar-benar menjadi “penggemar berat” Tan Malaka dan saya lebih condong ke Bung Hatta," ucapnya.
Untuk membangun latar sejarah, ia banyak bertumpu pada karya George McTurnan Kahin (Nasionalisme dan Revolusi Indonesia) dan Ruth T. McVey (Kemunculan Komunisme Indonesia). Di tengah iklim di mana buku masih bisa disita aparat, apakah ia tak khawatir dicap penyebar paham kiri?
“Komunisme itu ideologi yang sudah bangkrut. Uni Soviet runtuh. China makin kapitalis,” ujarnya.
“Kita tidak perlu takut pada hantu dari masa lalu," katanya.
Ketika dituding sekadar “aji mumpung” menunggangi tren naiknya penjualan Madilog dan Naar de Republiek, ia tak membantah. Pertanyaan terakhir membuatnya terdiam. Iput mendongak, menyilangkan tangan, menyusun kalimat dengan hati-hati.
“Sejujurnya saya tidak tahu,” ucapnya pelan.
“Saya juga takut terdengar muluk," katanya.
Namun ia lalu menutup dengan satu harapan sederhana. Setelah membaca novel ini, orang jadi lebih tertarik membaca sejarah. Sebab Tan Malaka, Hatta, Natsir, Buya Hamka, Agus Salim, mereka raksasa-raksasa yang pernah berjalan di atas bumi Indonesia.
“Tidak muluk-muluk, harapan saya setelah membaca novel ini, orang jadi lebih tertarik membaca sejarah,, dan barangkali, lewat patah hati yang diimajinasikan, raksasa itu bisa terasa sedikit lebih dekat," katanya.