Membangun Kesejahteraan Umat Melalui Pengembangan Ekonomi Islam
- 08 Nov 2025 21:58 WIB
- Banjarmasin
KBRN Banjarmasin: Siaran Ragam Budaya – Ruhui Barakat Pro4 RRI Banjarmasin pada Sabtu (8/11/2025) menghadirkan pembahasan menarik bertema “Pengembangan Ekonomi Islam di Negara Muslim” bersama narasumber Dr. Mujiburohman, M.A., Ph.D..
Dalam dialog yang berlangsung hangat ini, Mujiburohman menekankan pentingnya memahami kembali konsep dasar ekonomi Islam sebagai sistem yang bersumber dari nilai ketuhanan dan keseimbangan sosial, bukan semata urusan finansial atau materi semata.
Menurut Mujiburohman, sistem ekonomi Islam telah terbukti mampu membangun peradaban yang berkeadilan sejak masa Rasulullah SAW di Madinah. Ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang transaksi atau keuntungan, tapi tentang ibadah, tanggung jawab sosial, dan akhlak. Sistem ini mengajarkan keseimbangan antara individu dan masyarakat, antara dunia dan akhirat,”
Beliau juga menyoroti fakta bahwa banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim belum sepenuhnya menerapkan sistem ekonomi Islam secara konstitusional. Sebagai contoh, Turki dan Indonesia yang secara politik tidak menganut sistem Islam, namun memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi syariah melalui lembaga dan kebijakan yang berpihak pada nilai-nilai keislaman.
“Kita punya modal sosial dan spiritual yang kuat, tinggal bagaimana negara dan masyarakat mengintegrasikan prinsip syariah ke dalam sistem ekonomi nasional,” ucapnya.
Mujiburohman turut menyinggung peran penting Bank Indonesia melalui pembentukan Dewan Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) yang berfungsi memperkuat infrastruktur dan kebijakan ekonomi Islam di Tanah Air. Melalui DEKS, Indonesia diharapkan mampu menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
“Ini langkah maju, namun butuh kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan, riset, dan perbankan untuk memperkuat ekosistem ekonomi Islam,” ujarnya.
Lebih jauh, Beliau menjelaskan delapan karakteristik utama ekonomi Islam yang harus menjadi fondasi pembangunan umat, antara lain bersumber dari Tuhan (Rabbaniyah Mashdar), bertujuan untuk Allah (Rabbaniyah al-Hadf), memiliki pengawasan internal dan eksternal, serta menyeimbangkan antara material dan spiritual.
“Prinsip keseimbangan inilah yang membedakan ekonomi Islam dengan sistem konvensional yang cenderung kapitalistik,” ucapnya.
Siaran Ruhui Barakat kali ini menegaskan kembali peran penting ekonomi Islam sebagai solusi atas ketimpangan sosial dan krisis moral ekonomi global. Melalui pendekatan yang holistik dan berbasis nilai-nilai ketuhanan, sistem ekonomi Islam diyakini mampu mewujudkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan, bukan hanya di negara-negara Muslim, tetapi juga untuk kemaslahatan dunia.