Kurikulum Berbasis Cinta Tekan Perundungan di Sekolah
- 06 Mar 2026 09:03 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan upaya penguatan pendidikan agama melalui integrasi materi kesehatan jiwa dalam pembelajaran dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) tentang Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis 5 Maret 2026.
Dilansir dari kemenag.go.id, Menag menilai bahwa koneksi spiritual yang sehat menjadi salah satu faktor protektif penting dalam menurunkan risiko depresi dan perundungan pada anak. Selain itu, dukungan komunitas yang hangat dan inklusif juga berperan besar dalam menjaga kesehatan mental anak dan remaja.
Menurutnya, pendidikan agama tidak hanya berfokus pada aspek kognitif semata. Pembelajaran juga diarahkan untuk membentuk empati serta kedewasaan emosional pada peserta didik.
Ia menegaskan bahwa agama tidak diajarkan secara kaku dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai-nilai spiritual diharapkan mampu membentuk karakter sekaligus membantu peserta didik dalam mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Kurikulum Berbasis Cinta menekankan sejumlah nilai penting dalam kehidupan manusia. Nilai tersebut mencakup cinta kepada Tuhan, cinta terhadap ilmu, cinta pada diri sendiri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta kepada tanah air.
Pendekatan ini juga memperkenalkan perspektif ekoteologis dalam pembelajaran. Perspektif tersebut memandang alam sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dihormati dan dijaga keberlangsungannya.
Menag menyampaikan bahwa meskipun kurikulum ini baru diterapkan selama satu tahun, dampaknya mulai dirasakan secara luas. Tidak hanya memperkuat hubungan antarmanusia, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap tumbuhan, hewan, dan alam semesta.
Ia meyakini bahwa penanaman empati secara menyeluruh dapat membantu mengurangi kekerasan di lingkungan pendidikan. Dengan tumbuhnya kesadaran nilai cinta, kasus perundungan di sekolah diharapkan dapat semakin berkurang.
Menag juga optimistis bahwa penerapan nilai cinta akan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif. Lingkungan pendidikan diharapkan menjadi ruang yang aman, nyaman, dan saling menghargai bagi seluruh peserta didik.