Akademisi UIN Antasari Soroti Stigma Sosial terhadap Difabel

  • 12 Mar 2026 11:13 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Secara sosial, kelompok difabel kerap mengalami stigmatisasi dan keterbatasan aksesibilitas. Kondisi tersebut juga sering terjadi ketika mereka berada di ruang publik, termasuk di tempat ibadah.

Dalam perspektif keagamaan, sebagian tafsir memandang disabilitas sebagai bagian dari kehendak Allah Swt. Keyakinan bahwa di balik kesulitan terdapat kemudahan menjadi salah satu pandangan yang berkembang di masyarakat.

Hal ini disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Helma Nuraini, S.Psi., M.Pd., pada acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 7 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa perspektif masyarakat terhadap disabilitas masih dipengaruhi pandangan sosial, budaya, dan agama.

"Walaupun mungkin ada faktor-faktor manusia, tetapi pada akhirnya Allah yang menakdirkan bagaimana pun keadaannya," ujarnya.

Helma menjelaskan, dalam perspektif medis disabilitas sering dipandang sebagai kekurangan yang harus dicari penyebabnya. Misalnya ketika anak lahir dengan gangguan pada fungsi otak, gerak fisik, atau indera, dunia kedokteran akan menelusuri faktor penyebabnya seperti kondisi penyakit.

"Karena itu penting penggunaan istilah disabilitas atau difabilitas sebagai upaya mengubah paradigma masyarakat," ujarnya. "Pengistilahan tersebut diharapkan dapat mendorong cara pandang yang lebih inklusif terhadap penyandang disabilitas."

Rekomendasi Berita