Gasibu, Dari Wilhelmina Plein hingga Ikon Warga Bandung

  • 28 Feb 2026 13:56 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Setiap Minggu pagi, ratusan orang beraktivitas mulai dari berlari kecil atau sekedar duduk menikmati udara segar di Lapangan Gasibu. Lapangan luas di depan Gedung Sate ini telah menjadi ruang publik yang hidup sekaligus tempat rutin pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha bagi warga Bandung.

Tidak banyak yang tahu, nama “Gasibu” menyimpan jejak sejarah panjang Kota Bandung. Dari Lapangan Kolonial pada masa Hindia Belanda, lapangan ini bernama Wilhelmina Plein, diambil dari nama Ratu Wilhelmina. Fungsinya saat itu bukan ruang rakyat seperti sekarang, melainkan bagian dari tata kota kolonial yang rapi dan simbolik.

Selepas kemerdekaan, nama kolonial itu ditanggalkan. Lapangan sempat dikenal sebagai Lapangan Diponegoro, mengikuti semangat nasionalisme yang menguat di era awal Republik.

Lahirnya Nama “Gasibu”

Memasuki tahun 1950-an, lapangan ini menjadi arena aktivitas sepak bola warga Bandung Utara. Di sanalah berlatih sebuah perkumpulan bernama Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara.

Nama panjang itu kemudian disingkat oleh masyarakat menjadi GA-SI-BU.

Sejak sekitar tahun 1955, penyebutan “Lapangan Gasibu” makin populer dan akhirnya melekat hingga sekarang. Jadi, bukan dari kata “gazebo”, dan bukan pula dari akronim politik, melainkan dari dinamika olahraga warga.

Gasibu hari ini adalah wajah kota yang egaliter. Dari pejabat hingga pedagang kaki lima, dari atlet hingga keluarga muda, semua bertemu di hamparan rumput yang sama.

Jejak Sejarah yang Terus Hidup. Nama boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi satu hal tetap, Gasibu selalu menjadi ruang pertemuan. Dari simbol kolonial, menjadi simbol nasionalisme, lalu menjelma ruang publik yang inklusif.

Gasibu bukan sekadar lapangan.

Ia adalah cerita tentang bagaimana kota tumbuh, bergerak, dan memberi ruang bagi warganya.

Penulis : Soleman Yusuf

Rekomendasi Berita