Masjid Mungsolkanas, Jejak 1869 yang Terus Menyala Ditengah Kota

  • 25 Feb 2026 09:47 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Cihampelas yang dikenal sebagai salah satu pusat keramaian Kota Bandung, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan jejak sejarah panjang. Masjid Mungsolkanas, yang didirikan pada 1869, bukan sekadar tempat ibadah. Sejak awal, masjid ini menjadi pusat pembinaan generasi muda dan pendidikan agama di wilayah tersebut.

‎Ketua DKM Masjid Mungsolkanas Kota Bandung Tatang Somantari, menuturkan bahwa pada mulanya bangunan masjid hanyalah sebuah kobong bangunan sederhana yang difungsikan bukan hanya untuk salat, tetapi juga untuk mendidik para santri.

‎“Betul. Masjid ini mulai berdiri tahun 1869. Awalnya berupa kobong, yang berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat membina generasi muda, semacam pesantren pada masa itu. Jadi selain masjid, juga menjadi pusat pendidikan agama,” ujar Tatang, Rabu 25 Februari 2026.

‎Pada masa awal berdirinya, sistem pendidikan di Masjid Mungsolkanas berjalan secara sederhana. Para santri belajar agama dengan fasilitas seadanya. Meski demikian, semangat menuntut ilmu tetap tinggi. Banyak di antara mereka yang kemudian melanjutkan pendidikan ke luar daerah setelah menyelesaikan pembelajaran dasar di masjid tersebut.

‎Seiring perkembangan zaman, sistem pesantren yang dulu menjadi ruh utama masjid memang tidak lagi berjalan seperti masa awal. Namun, semangat kaderisasi tidak pernah padam.

‎“Alhamdulillah, sekarang sudah ada generasi muda yang menuntut ilmu agama di luar, lalu kembali ke sini dan mulai menyampaikan ilmu yang mereka dapatkan. Di kepengurusan saya saat ini, komposisinya 50 persen generasi muda dan 50 persen orang tua,” jelasnya.

‎Ia berharap regenerasi ini dapat menjaga kesinambungan dakwah di Masjid Mungsolkanas. Meski ada di antara generasi muda yang kemudian menetap di luar daerah karena pekerjaan atau membangun keluarga, mereka tetap memiliki keterikatan emosional dengan masjid tempat mereka tumbuh.

‎“Minimal mereka sudah sempat berbagi ilmu di sini dan tetap punya keinginan untuk kembali sesekali,” tambahnya.

‎Salah satu tradisi yang terus dipertahankan sejak masjid berdiri adalah pengajian malam Jumat. Hingga kini, kegiatan tersebut rutin diisi dengan pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan kajian keagamaan lainnya.

‎Tradisi ini menjadi pengikat silaturahmi warga sekaligus simbol kesinambungan nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

‎“Malam Jumat tetap diisi dengan kegiatan keagamaan seperti sejak awal berdiri,” ujar Tatang.

‎Perjalanan panjang Masjid Mungsolkanas juga diwarnai sejumlah renovasi. Renovasi awal dilakukan pada masa Mama Aden sebagai BKM pertama, kemudian dilanjutkan oleh putranya, Haji Danami Harja. Dari bangunan panggung berbahan kayu dan bambu, masjid perlahan berubah menjadi bangunan setengah tembok.

‎Pada periode berikutnya, ketika ayah Tatang menjabat Ketua DKM, bangunan diperkuat dan dipugar lebih permanen. Namun, mempertahankan keaslian arsitektur bukan perkara mudah.

‎“Dulu banyak unsur kayu dan bambu. Kalau sudah dipugar jadi tembok, elemen bambu sulit dipertahankan,” katanya.

‎Meski demikian, jejak sejarah tetap dijaga. Sebuah prasasti yang dibuat pada masa Haji Hudaya masih tersimpan. Tulisan tangan Mama Aden pun dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah masjid.

‎Tatang mengenang masa kecilnya ketika bangunan masjid masih berbentuk panggung, dengan balong atau kolam di bagian depan untuk berwudhu. Airnya jernih dan mengalir alami.

‎“Saya sendiri mengalami wudhu di sana. Sekarang sudah berubah," katanya.

‎Selain menjadi pusat ibadah warga sekitar, Masjid Mungsolkanas juga kerap menjadi tempat singgah bagi para tamu dari luar daerah. Keluarga pasien rumah sakit, pelajar SMP dan SMA, hingga mahasiswa, pernah menjadikan masjid ini tempat beristirahat, terutama sebelum banyak masjid lain berdiri di sekitar kawasan tersebut.

‎Hingga kini, masjid masih membuka pintu bagi musafir yang ingin singgah atau bermalam. Namun, pengurus menerapkan aturan yang disesuaikan dengan ketentuan wilayah.

‎“Sekarang tetap diperbolehkan bermalam, tapi hanya dikondisikan. Tidak disediakan fasilitas khusus. Kalau hanya istirahat atau singgah, silakan. Tapi kalau lebih dari 1x24 jam, tetap harus lapor sesuai aturan wilayah,” tandasnya.

‎Lebih dari satu setengah abad berdiri, Masjid Mungsolkanas tetap menjadi saksi perjalanan spiritual masyarakat Cihampelas. Di tengah perubahan wajah kota, masjid ini terus berupaya menjaga perannya sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan generasi.

‎Dari kobong sederhana pada 1869 hingga bangunan permanen hari ini, Masjid Mungsolkanas membuktikan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diteruskan.

Rekomendasi Berita