Kicau yang Kembali Nyaring di Bumi Way Kambas

  • 19 Agt 2025 18:02 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Lampung Timur: Di Desa Labuhan Ratu IX, Lampung Timur, suara kicau burung masih akrab terdengar di pagi hari. Desa ini berada tepat di tepian Taman Nasional Way Kambas, kawasan hutan yang selama ini menjadi rumah bagi ratusan spesies burung. Namun, di balik kicau itu, ada ancaman nyata: penangkapan burung secara ilegal yang menggerus keanekaragaman hayati.

Kesadaran itulah yang mendorong Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui Integrated Terminal (IT) Panjang bersama Koperasi Plang Ijo untuk menghadirkan sebuah gerakan bertajuk “Desa Ramah Burung.” Sosialisasi yang berlangsung, Selasa (19/8/2025), mengusung tema “Suara dari Hutan: Menjadikan Desa Kita Rumah Bagi Burung.”

Kegiatan sosialisasi oleh Pertamina Patra Niaga di Desa Ramah Burung, Lampung Timur. (Foto: dok/Pertamina Patra Niaga Sumbagsel).

Tidak seperti kegiatan formal biasa, sosialisasi ini lebih banyak menghadirkan cerita, permainan, hingga aktivitas interaktif yang menyasar anak-anak. Harapannya, mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa burung bukan sekadar satwa liar, melainkan bagian penting dari ekosistem desa.

“Burung membantu menyebarkan biji tanaman, mengendalikan hama, dan menjaga keseimbangan alam. Dengan melindungi burung, kita sebenarnya sedang menjaga kehidupan kita sendiri,” tutur Catur Yogi Prasetyo, Supervisor HSSE and Fleet IT Panjang.

Bagi Pertamina, kegiatan ini adalah bukti bahwa pelestarian alam tidak bisa berdiri sendiri. “Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan swasta menjadi kunci agar lingkungan tetap lestari bagi generasi mendatang,” tambah Catur.

Beberapa tahun lalu, Desa Labuhan Ratu IX masih diwarnai aktivitas penangkapan burung untuk dijual. Perdagangan satwa ini bahkan sudah dianggap kebiasaan turun-temurun oleh sebagian warga.

Namun, setelah kehadiran program Desa Ramah Burung, perilaku itu perlahan berubah. “Sekarang, kalau ada warga menemukan sarang burung, mereka justru melaporkannya kepada koperasi untuk dilestarikan, bukan diambil,” ungkap Arif Fauzun, Ketua Koperasi Plang Ijo.

Kesadaran warga mulai meningkat, mereka secara sukarela menyerahkan burung hasil tangkapnnya untuk dilepasliarkan. (Foto: dok/Pertamina Patra Niaga Sumbagsel).

Perubahan itu terasa nyata. Aktivitas ilegal berkurang signifikan, dan masyarakat mulai bangga desanya dikenal sebagai habitat aman bagi burung, termasuk spesies langka yang bermigrasi di kawasan Way Kambas.

Bagi sebagian orang, Way Kambas identik dengan gajah sumatera. Namun, bagi para pengamat burung (birder), kawasan ini adalah surga. Puluhan spesies burung endemik hingga migran dari Asia dan Australia menjadikan Way Kambas salah satu spot terbaik di Asia Tenggara.

“Misi kami bukan hanya menjaga burung, tapi juga merawat habitatnya. Itu sebabnya program ini mencakup penanaman pohon, rehabilitasi lahan, hingga monitoring ekosistem,” jelas Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel.

Menurutnya, keberlanjutan program menjadi fokus utama. Edukasi tidak boleh berhenti di satu generasi saja. “Anak-anak desa inilah penjaga ekosistem masa depan. Mereka harus tumbuh dengan rasa cinta pada burung dan hutan di sekitarnya,” katanya.

Salah seorang pengunjung berpose saat baru tiba di Desa Ramah Burung. (Foto: RRI/Agung Gz).

Gerakan Desa Ramah Burung ini tidak berdiri sendiri. Ia selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan dunia, Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada Tujuan 13 tentang penanganan perubahan iklim dan Tujuan 15 mengenai pelestarian ekosistem darat.

Melalui program ini, Labuhan Ratu IX diharapkan menjadi contoh bagi desa lain, bahwa kehidupan manusia bisa berjalan selaras dengan kehidupan satwa liar.

Di tengah kicauan burung yang kembali ramai di desa itu, masyarakat kini punya alasan untuk optimistis. Suara hutan bukan lagi sekadar latar belakang hidup mereka, melainkan tanda bahwa alam dan manusia bisa hidup berdampingan dalam harmoni.

Rekomendasi Berita