Rumah Adat Aceh Tamiang yang Kental Tradisi Melayu
- 16 Jul 2024 02:32 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh : Kabupaten Aceh Tamiang, yang terletak di Provinsi Aceh, memiliki kekayaan budaya yang melimpah, salah satunya adalah rumah adat tradisional yang mencerminkan kearifan lokal dan warisan leluhur masyarakat setempat. Rumah adat Aceh Tamiang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol identitas dan nilai-nilai budaya masyarakat Tamiang. Artikel ini akan membahas ciri khas, struktur, dan makna budaya dari rumah adat Aceh Tamiang.
Dikutip Wikipedia, Arsitektur rumah tradisional masyarakat Tamiang yang berada di Aceh yaitu hampir sama dengan rumah tradisional masyarakat Melayu pada kebayakan di wilayah Sumatera Utara.
Rumah tersebut terdiri dari rumah panggung, bertiang empat persegi, banyak tiang rumah induk 9 atau 12 tiang, berhubungan panjang agak melengkung sedikit ditengah, dan bubungan dapur agak terpisah dan agak rendah sedikit dari bubungan rumah induk.
Tinggi rumah induk "sekerunjong" (sepenjangkauan orang dewasa) atau bertangga tujuh. Manju, serambi muka dapur tingginya separas, tetapi lebih rendah kira kira 30 cm dari rumah induk.
Biasanya rumah diusahakan menghadap ke Barat, atau kalau rumah berada di pinggir sungai maka rumah harus menghadap sungai karena adalah pamali (tabu) bagi warga suku perkauman Tamiang kalau bubungan rumahnya melintang sungai.
Seperti banyak rumah adat di Aceh lainya, rumah adat Aceh Tamiang juga dengan struktur panggung memiliki makna dan filosofinya tersediri. Alasan dibangun struktur panggung melindungi rumah dari genangan air, mengingat daerah ini sering mengalami banjir. Kemudian ketinggian rumah dari tanah memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik, sehingga menjaga kesejukan di dalam rumah. Struktur panggung juga melindungi dari binatang buas dan serangga.
Dikunjungi RRI, Rumah Adat kabupaten Aceh Tamiang di Taman Sulthanah Safiatuddin Banda Aceh, terlihat sangat unik dan warna mencolok dibanding dengan rumah adat daerah lainya. Meski rumah asli berkontruksi kayu dan panggung, rumah adat Aceh Tamiang di Taman Sulthanah Safiatuddin dibuat semi permanen. Namun bahan baku utama banyak terdapat dari kayu. Warna rumah ini dicat berwarna kuning dan hijau. Warna ini merupakan warna khas dalam tradisi melayu yang merupakan adat masyarakat yang berada di perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara itu.
Rumah adat ini sering dihiasi dengan ukiran dan hiasan tradisional dan kaligrafi khas Arab dan Keacehan yang bercampur dengan konsep melayu. Hiasan-hiasan ini tidak hanya memperindah rumah tetapi juga memiliki makna simbolis yang dalam, mencerminkan nilai-nilai spiritual dan budaya masyarakat Tamiang.
Rumah adat Aceh Tamiang memiliki tata letak yang teratur dengan beberapa ruang utama yang masing-masing memiliki fungsi khusus, seperti Serambi (Seuramoë). Serambi adalah ruang terbuka di bagian depan rumah yang digunakan untuk menerima tamu atau sebagai tempat berkumpul keluarga. Serambi ini juga sering digunakan untuk kegiatan sosial dan keagamaan.
Ruang Keluarga (Rumoh Inong)
Ruang keluarga adalah bagian inti rumah yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti makan, tidur, dan berkumpul bersama anggota keluarga. Ruang ini biasanya dilengkapi dengan perabotan tradisional seperti tikar, bantal, dan peralatan rumah tangga lainnya.
Kemudian Dapur (Dapu), Dapur terletak di bagian belakang rumah, merupakan tempat memasak dan menyiapkan makanan. Dapur ini biasanya sederhana dengan peralatan memasak tradisional seperti tungku dan panci dan Serambi Belakang (Seuramoë Likôt). Serambi belakang adalah ruang tambahan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti tempat beristirahat atau menyimpan barang-barang.
Ornamen dan ukiran pada rumah adat sering kali memiliki makna spiritual yang mendalam. Ini mencerminkan kuatnya nilai-nilai keagamaan dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tamiang. Sehingga Rumah adat ini memiliki simbol kebudayaan yang kaya dengan nilai-nilai arsitektur, sosial, dan spiritual.
Struktur panggung, penggunaan material alami, dan ornamen khas menjadikan rumah adat ini unik dan bernilai tinggi. Melalui rumah adat ini, masyarakat Tamiang tidak hanya mempertahankan identitas budaya mereka tetapi juga mengajarkan pentingnya kebersamaan, keharmonisan dengan alam, dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....