Idang Talam, Seserahan Pengantin Dalam Tradisi Pernikahan di Aceh
- 06 Jul 2024 01:19 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh : Idang Talam adalah salah satu tradisi adat yang masih dipertahankan oleh masyarakat Aceh hingga saat ini. Tradisi ini melibatkan penyajian makanan dalam sebuah talam (nampan besar) yang dinikmati secara bersama-sama oleh keluarga, tetangga, atau tamu yang datang berkunjung. Idang Talam tidak hanya sekadar acara makan bersama, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial dan budaya yang mendalam. Idang Talam biasanya dijumpai pada peringatan hari-hari besar keagamaan seperti Maulid maupun sebagai seserahan pengantin pada adat pernikahan di Aceh.
Idang Talam berasal dari kata "idang" yang berarti sajian makanan dan "talam" yang berarti nampan besar. Tradisi ini sudah ada sejak lama dan merupakan bagian integral dari budaya masyarakat Aceh. Pada awalnya, Idang Talam sering diadakan pada acara-acara besar seperti pernikahan, kenduri, Maulid Nabi, serta peringatan hari-hari besar Islam.
Dalam sejarahnya, tradisi ini berkembang sebagai cara untuk mempererat hubungan sosial di antara anggota masyarakat. Makan bersama dalam satu talam melambangkan kebersamaan, kesetaraan, dan saling berbagi. Pada tradisi adat pernikahan, Idang Talam menjadi syarat yang wajib bagi pengantin pria untuk diserahkan kepada pengantin wanita pada saat resepsi adat perkawinan berlangsung. Idang Talam ini biasanya dibawakan oleh pria lalu kemudian diserahkan kepada pihak keluarga mempelai wanita.
Pada tahun 2017 lalu, tradisi membawa Idang Talam oleh pria memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) di Banda Aceh. Dilansir dari laman Muri disebutkan bahwa, Idang Talam merupakan hidangan berisi makanan khas Aceh yang diletakkan dalam wadah dan ditutup dengan kain. Sejak dulu, idang talam sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh. Idang talam biasa dihidangkan pada saat upacara pernikahan atau peringatan adat lainnya.
Menyemarakkan Aceh International Halal Food Festival 2017, Pemerintah Aceh dan masyarakat Banda Aceh bersama-sama membawa idang talam. Sebanyak 1.074 pria yang membawa idang talam yang kemudian dinikmati oleh seluruh masyarakat yang telah hadir di Taman Sari, Banda Aceh.
Untuk menyiapkan Idang Talam melibatkan beberapa tahapan, mulai dari persiapan hingga acara makan bersama. Makanan yang disajikan dalam Idang Talam biasanya terdiri dari nasi, lauk-pauk, sayur, dan berbagai hidangan khas Aceh seperti kari kambing, ayam tangkap, ikan bakar, dan sambal ganja. Setiap keluarga atau kelompok yang berpartisipasi biasanya membawa hidangan yang berbeda untuk disajikan dalam talam.
Kemudian makanan yang sudah disiapkan kemudian disusun di atas talam. Talam-talam ini biasanya diletakkan di atas tikar atau meja panjang. Setiap talam biasanya diisi dengan cukup makanan untuk sekitar 4 hingga 6 orang. Sebelum acara makan dimulai, biasanya dilakukan pembacaan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat rezeki yang diberikan. Doa ini juga dimaksudkan untuk meminta berkah bagi makanan yang akan disantap.
Setelah doa, semua orang yang hadir duduk mengelilingi talam dan mulai makan bersama. Makan dalam satu talam melambangkan kebersamaan dan kesetaraan, di mana semua orang berbagi makanan yang sama tanpa membedakan status sosial. Setelah selesai makan, acara biasanya ditutup dengan doa penutup dan ucapan terima kasih kepada tuan rumah atau penyelenggara acara. Kadang-kadang, acara dilanjutkan dengan kegiatan sosial lainnya seperti berzikir, berbincang-bincang, atau hiburan tradisional.
Dalam prosesi adat perkawina Idang Talam tidak hanya berisi makanan, tapi juga berbagai kebutuhan untuk pengantin wanita, seperti kain songket, hingga beragam peralatan kosmetik. Melalui tradisi ini, masyarakat Aceh menjaga dan melestarikan budaya serta nilai-nilai leluhur mereka. Idang Talam menjadi salah satu cara untuk mentransmisikan tradisi dan adat istiadat kepada generasi muda. Idang Talam juga sering digunakan sebagai media untuk menyelesaikan konflik atau perselisihan di antara anggota masyarakat. Makan bersama dianggap sebagai cara untuk meredakan ketegangan dan mempererat kembali hubungan yang renggang.
Melalui tradisi ini, masyarakat Aceh tidak hanya merayakan kebersamaan dan gotong royong, tetapi juga menjaga kesetaraan, rasa syukur, dan pelestarian budaya. Idang Talam menjadi simbol kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya kebersamaan dan saling berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, masyarakat Aceh turut menjaga identitas budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....