​Masjid Teungku di Anjong, Sejarah Aceh Disebut Serambi Mekkah

  • 05 Jul 2024 02:52 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Masjid Teungku di Anjong merupakan salah satu masjid tertua di Aceh yang memiliki nilai sejarah pada masa kejayaan Kerajaan Aceh. Masjid Teungku di Anjong dibangun pada abad ke-18 Masehi. Masjid ini terletak di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk menuju ke Masjid ini dari pusat kota Banda Aceh. Suasana di area masjid ini sangat sejuk, karena dikelilingi pepohonan.

Ketua Balai Kemakmuran Mesjid (BKM) Tgk Dianjong Bustami yang juga sekaligus juru kunci makam Tgk Dianjong
Bustami saat ditemui RRI bercerita banyak tentang sejarah awal berdirinya masjid ini hingga bagaimana kejayaan Islam di Tanah Rencong. Berdasarkan catatan sejarah, masjid ini didirikan oleh Tgk Dianjong yang memiliki nama aslinya adalah Habib Abubakar bin Husen Bilfaqih pada tahun 1769 masehi. Masjid ini bernuansa tradisional, dengan mengadopsi arsitek China dan Melayu.

Masjid berwarna putih dipadu hijau ini telah mengalami beberapa kali renovasi, bahkan pada tahun 2004 tepatnya tanggal 26 Desember, Masjid ini hancur rata dengan tanah setelah diterjang gelombang tsunami. "Masjid kita malah hilang. Masjid kita kan kayu. Masjid aslinya kayu. Kayu bangunan kayu. Waktu tsunami itu kan hanyut. Jadi tinggal pondasi. Pondasi dengan tiang-tiang saja. Lalu pada tahun 2008, berkat adanya bantuan pemerintah masjid ini dibangun kembali," kata Bustami.

Masjid Tgk Dianjong memiliki tiga lantai dan masing-masing lantai ada makna tersendiri. "Jadi atapnya tiga lapis. Dan ini semua bermakna. Lantainya juga tiga. Kalau yang di bawah itu maknanya Syariat. Yang lantai duanya Tarekat. Yang lantai tiganya Makrifat," ujarnya.

Masjid yang mampu menampung sekitar 500-600 orang jemaah itu berdiri di atas lahan sekitar 4 hektar. Masjid ini terlihat cukup rapi, area parkir juga luas. Di samping sebelah kiri Masjid terdapat makam Tgk Dianjong bersama istrinya bernama Syarifah Fatimah Binti Sayid Abdurrahman Al-Aidid. Bangunan makam itu terpisah dari bangunan Masjid namun masih satu atap. Di perkarangan makam juga terdapat beberapa makam lainya yang merupakan murid Tgk Di Anjong.

"Sejarahnya, beliau dulu datangnya untuk berdakwah mengsyiarkan ajaran Islam. Kemudian beliau menikah. Menikah dengan salah satu keluarga kerajaan Aceh. Kemudian istri beliau meninggal. Tidak sempat punya anak. Makam istri yang pertama beliau itu tempatnya di Langgapang Ulee Kareng. Tapi kalau nama saya lupa. Tapi orang Aceh," kata Bustami.

"Kemudian istri kedua. Kemudian beliau setelah itu, beliau kembali pulang ke Yaman. Beliau menikah dengan Syarifah Fatimah. Setelah menikah, beliau bawa kemari dan menetap lagi di sini. Tapi juga tidak punya anak," sambung Bustami.

Berbicara tentang Masjid Tgk Dianjong, ternyata Masjid yang satu ini banyak menyimpan sejarah peradaban Islam di Aceh. Awal pembangunan Masjid ini ketika Habib Abubakar bin Husen Bilfaqih atau disebut Tgk Dianjong menyebarkan syiar Islam hingga ke tanah Aceh.

"Tgk Dianjong merupakan ulama besar asal Yaman yang mengembara hingga ke Asia Tenggara dan akhirnya menetap di Aceh. Tgk Dianjong tinggal di Aceh semasa Sultan Alaudin Mahmudsyah (1760-1781) memimpin Kerajaan Aceh Darussalam," kata Bustami.

Dulu, Masjid ini juga menjadi tempat Manasik Haji. Orang-orang yang akan berangkat ke tanah suci Mekkah akan singgah di Masjid ini untuk memperdalam ilmu sebelum berangkat ke tanah suci.
Dari sini lah Aceh disebut sebagai Serambi mekkah.

Kini Masjid Tgk Dianjong banyak dikunjungi oleh jemaah untuk beribadah dan menjadi objek wisata religi yang dikunjungi para pelancong dari berbagai negara. Bahkan setiap setahun sekali pada bulan Ramadhan pihak panitia masjid mengadakan Haul Tgk Dianjong dan banyak ulama-ulama timur tengah yang datang. Untuk merawat Masjid dan Makam Tgk Dianjong, Bustami bersama tokoh masyarakat secara swadaya mengumpulkan dana agar situs bersejarah ini terus terjaga dengan baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....