​Jejak Turki di Desa Bitai

  • 02 Jul 2024 15:39 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh adalah salah satu tempat yang menyimpan jejak sejarah hubungan antara Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani. Hubungan ini terjalin pada abad ke-16 dan 17, saat Aceh menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di Nusantara. Keberadaan jejak Turki di Desa Bitai tidak hanya memperkaya warisan sejarah Aceh tetapi juga menunjukkan hubungan persahabatan dan kerjasama internasional yang telah terjalin sejak lama.

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Aceh memiliki hubungan diplomatik yang erat dengan Kesultanan Turki Utsmani. Hubungan ini didorong oleh persamaan agama dan tujuan strategis dalam menghadapi ancaman dari kekuatan kolonial Barat. Aceh, sebagai salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara, sering kali meminta bantuan militer dan teknis dari Turki Utsmani untuk memperkuat pertahanan dan pengembangan infrastrukturnya.

Salah satu bukti nyata dari pengaruh Turki di Aceh dapat ditemukan di Desa Bitai. Di sini, terdapat sebuah kompleks pemakaman yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para tentara dan ahli teknis Turki yang datang ke Aceh untuk membantu kerajaan dalam berbagai bidang, terutama dalam penguatan militer dan arsitektur. Kuburan-kuburan ini memiliki ciri khas batu nisan dengan ukiran kaligrafi Arab yang menunjukkan pengaruh budaya dan seni Turki.

Sejarah mencatat bahwa pada beberapa kesempatan, Kesultanan Aceh mengirim utusan ke Turki untuk menjalin hubungan diplomatik dan meminta bantuan militer. Sebagai balasan, Kesultanan Turki Utsmani mengirim para ahli militer, senjata, dan kapal perang untuk membantu Aceh dalam menghadapi ancaman dari penjajah Portugis dan Belanda. Kerjasama ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan antara kedua kerajaan dalam menjaga kedaulatan dan penyebaran Islam.

Dilansir dari Banda Aceh Tourism, berdasarkan catatan sejarah, di Desa Bitai terdapat seorang tokoh terkenal bernama Tengku Di Bitay yang memiliki nama asli Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi. Ia bersama tentara Kesultanan Utsmani lainnya datang ke Aceh untuk membantu Kerajaan Aceh Darussalam menahan serangan Portugis serta memperluas ajaran Islam.

Sultan Salahuddin diceritakan berteman dengan Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi yang diutus oleh Sultan Selim dari Kesultanan Utsmani. Karena itu, pada saat Sultan Salahuddin mangkat, Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi memberikan wasiat agar dimakamkan berdekatan dengan makam Sultan Salahuddin. Setelah masa Sultan Salahuddin, Kerajaan Aceh Darussalam masih menjalin hubungan dengan Kesultanan Utsmani, seperti di masa Sultan Alauddin Ibn Ali Malik az Zahir atau lebih dikenal dengan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahar memerintah Kerajaan Aceh.

Jejak Turki di Desa Bitai juga tercermin dalam bidang pendidikan dan budaya. Beberapa tradisi dan pengetahuan yang dibawa oleh para pendatang Turki telah berasimilasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian dari warisan Aceh. Pengaruh ini dapat dilihat dalam seni ukir, kaligrafi, serta beberapa tradisi kuliner yang mengadopsi unsur-unsur Turki.

Saat ini, pemerintah dan masyarakat setempat berupaya untuk menjaga dan melestarikan jejak sejarah Turki di Desa Bitai. Pemugaran dan perawatan kompleks pemakaman serta Masjid Bitai dilakukan secara berkala untuk memastikan situs-situs bersejarah ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Selain itu, Desa Bitai juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam tentang hubungan Aceh dan Turki.

Jejak Turki di Desa Bitai, Banda Aceh, merupakan bagian penting dari sejarah dan budaya Aceh. Warisan ini tidak hanya menunjukkan hubungan diplomatik dan militer yang kuat antara Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani tetapi juga memperkaya warisan budaya dan pendidikan di Aceh. Mengunjungi Desa Bitai memberikan kesempatan untuk melihat langsung bukti-bukti sejarah ini dan memahami lebih dalam tentang hubungan internasional yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat setempat memastikan bahwa jejak berharga ini akan terus menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan Aceh.

Pada tahun 2004 silam saat pasca bencana gempa dan tsunami Aceh, Pemerintah Turki juga memiliki andil besar dalam upaya membantu daerah berjuluk tanah rencong itu kembali pulih dari bencana. Salah satu kontribusinya, pemerintah Turki juga membangun rumah bantuan di beberapa lokasi, di antaranya di wilayah Lampuuk, Kecamatan Lhoknga Aceh Besar, dan di Desa Bitai. Rumah bantuan yang dibangun untuk korban tsunami tersebut memiliki ciri khasnya, yaitu terdapat lambang bendera pemerintahan Turki pada bagian depan rumah. Ini menunjukan bahwa hubungan Turki dengan Aceh tidak lekang oleh zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....