Wisata Lhok Gaca Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pariwisata
- 21 Agt 2026 16:26 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Kampung Wisata Lhok Gaca di Kecamatan Leupung, Aceh Besar, terus dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian budaya Aceh.
Hal tersebut mengemuka dalam program Beranda Astacita Suara Nusantara RRI Banda Aceh, Rabu (19/8/2026), yang menghadirkan Management Operator Lhok Gaca, Edwar, S.Pd., S.H., dan Destination Manager Agus Fernanda, S.H., dengan tema “Lhok Gaca: Wisata Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Rakyat.”
Edwar mengatakan, Lhok Gaca saat ini masih berada dalam fase trial opening sebelum memasuki tahap operasional penuh. Fase tersebut dimanfaatkan pengelola untuk menguji kesiapan fasilitas, sumber daya manusia, produk wisata, hingga kualitas pelayanan kepada pengunjung.
Menurut Edwar, keputusan membuka fase uji coba lebih awal tidak terlepas dari tingginya antusiasme masyarakat. Kawasan Lhok Gaca sebelumnya memang telah menjadi lokasi yang sering dikunjungi masyarakat untuk berkemah, berfoto, dan menikmati keindahan alam.
“Trial opening” sekaligus menjadi ruang bagi pengelola untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan sebelum destinasi tersebut resmi dibuka secara penuh.
Dari sisi sumber daya manusia, Destination Manager Lhok Gaca Agus Fernanda menyebutkan, sekitar 90 persen pekerja di kawasan wisata tersebut merupakan masyarakat lokal Leupung. Sebagian besar merupakan lulusan baru yang mendapatkan pengalaman langsung melalui fase trial opening.
Mereka dilatih mengenai pelayanan wisata, hospitality, komunikasi dengan pengunjung, hingga penanganan keluhan. Pengelola menargetkan kualitas pelayanan yang prima sehingga pengunjung tidak hanya datang karena penasaran, tetapi juga memiliki pengalaman positif dan bersedia kembali.
Konsep pemberdayaan masyarakat juga diterapkan melalui keterlibatan pelaku UMKM lokal. Sejumlah tenan makanan di Lhok Gaca berasal dari masyarakat Leupung. Dengan demikian, keberadaan destinasi wisata tersebut diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pengelola, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Saat ini, sejumlah fasilitas telah tersedia dan dapat dinikmati pengunjung, antara lain kano, perahu, kafe, glamping, serta camping ground. Pengelola juga tengah menyiapkan Jeep Adventure dengan rute yang masih dalam tahap penyusunan.
Pengembangan fasilitas dilakukan secara bertahap agar pengelola dapat mengevaluasi pengalaman wisatawan sekaligus memastikan kesiapan pelayanan sebelum seluruh fasilitas dibuka secara penuh.
Lhok Gaca juga menyasar wisatawan lokal dan domestik, khususnya keluarga. Konsep wisata yang ditawarkan menggabungkan aktivitas air, rekreasi alam, kuliner, dan pengalaman bermalam melalui fasilitas glamping. Ke depan, pengelola berharap destinasi tersebut juga dapat menjadi salah satu persinggahan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Aceh.

Dari sisi kebersihan dan keamanan, pengelola menerapkan pemantauan secara berkala. Tim kebersihan melakukan pembersihan area secara rutin, termasuk fasilitas kamar mandi. Sementara itu, kawasan glamping dilengkapi sistem keamanan dan CCTV. Pada malam hari, akses masuk kawasan dibatasi untuk menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan yang menginap.
Selama masa trial opening, pengunjung belum dikenakan tiket masuk. Pengelola hanya memberlakukan biaya parkir sebesar Rp5.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp2.000 untuk kendaraan roda dua. Kebijakan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperoleh masukan dan data kunjungan sebagai bahan evaluasi pengembangan fasilitas serta pelayanan.
Tingginya minat wisatawan juga terlihat dari tingkat hunian glamping. Pada Juli 2026, lima unit kamar yang dioperasikan per hari disebut hampir selalu penuh. Sementara pada Agustus, ketersediaan kamar pada akhir pekan telah banyak dipesan. Pengelola bahkan menyarankan wisatawan memilih hari kerja untuk memperoleh suasana yang lebih tenang dan leluasa menikmati fasilitas.
Di tengah tingginya kunjungan, pengelola mengakui masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan daya tampung. Kondisi tersebut terutama terjadi pada akhir pekan ketika pengunjung datang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Karena itu, jam operasional diperpanjang. Mulai 5 Agustus 2026, Lhok Gaca beroperasi dari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB pada hari biasa, sedangkan akhir pekan mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Pada Kamis, operasional dibatasi hingga sore hari dan pada Jumat kegiatan dimulai setelah salat Jumat sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
Pengelola menilai fase uji coba bukan sekadar upaya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar, menerima kritik, dan memperbaiki berbagai kekurangan. Masukan dari pengunjung akan digunakan untuk menyempurnakan fasilitas dan pelayanan sebelum pengembangan destinasi dilakukan lebih luas.
Selain alam dan aktivitas wisata, Lhok Gaca juga berencana menghadirkan ruang bagi kesenian Aceh. Panggung seni disiapkan sebagai wadah bagi sanggar dan seniman lokal untuk menampilkan berbagai kesenian, khususnya pada akhir pekan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada wisatawan.
Agus Fernanda menegaskan, kehadiran Lhok Gaca membawa dua misi utama, yakni menunjukkan bahwa Aceh memiliki peluang investasi pariwisata sekaligus membuktikan bahwa pengembangan wisata dapat berjalan seiring dengan syariat Islam, kearifan lokal, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia menilai potensi alam Aceh sangat besar dan perlu dikelola secara optimal agar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Sementara itu, Edwar mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk bersama-sama mengembangkan sektor pariwisata Aceh. Menurutnya, kekayaan alam Aceh yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota merupakan modal besar untuk membangun destinasi wisata yang mampu memberikan pengalaman sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pengelola Lhok Gaca berharap wisatawan datang bukan hanya karena penasaran terhadap destinasi yang viral di media sosial, tetapi kembali karena merasa nyaman dan mengajak orang lain setelah mendapatkan pengalaman yang berkesan. Dengan konsep tersebut, Lhok Gaca diarahkan bukan sekadar menjadi tempat wisata, melainkan ruang untuk membangun pengalaman, menggerakkan ekonomi lokal, dan mendorong pertumbuhan pariwisata Aceh secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....