AI dan Travelling: Cara Anak Muda Memudahkan Pengalaman Perjalanan
- 18 Agt 2026 08:00 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi cara anak muda merencanakan perjalanan. Mulai dari mencari destinasi, membaca ulasan, menentukan perlengkapan hingga menyusun rencana perjalanan, berbagai kebutuhan travelling kini dapat dibantu teknologi.
Namun, kemudahan tersebut dinilai tidak seharusnya membuat wisatawan kehilangan pengalaman berinteraksi dengan manusia, masyarakat lokal, maupun cerita budaya yang tidak selalu tersedia di internet.
Pandangan tersebut mengemuka dalam program siaran CCK (Cerita Kamu) Programa 2 RRI Banda Aceh, Jumat (14/8/2026), yang mengangkat tema Travelling di Era AI: Lebih Mudah atau Malah Kehilangan Petualangan?. Dialog menghadirkan dua anggota Gesit Kota Banda Aceh, T. Muhammad Rayyan dan Fayyadh Ayyasi.
Fayyadh Ayyasi, siswa SMK Negeri 3 Banda Aceh jurusan Usaha Layanan Pariwisata, mengatakan AI dapat membantu wisatawan menemukan berbagai informasi mengenai destinasi. Namun, menurut dia, informasi dari AI tetap perlu diverifikasi dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalau misalnya dibantu AI, apalagi dengan tempat-tempat baru, sebenarnya terbantu,” kata Fayyadh dalam dialog tersebut.
Menurut Fayyadh, destinasi wisata yang viral di media sosial belum tentu selalu memberikan pengalaman sesuai ekspektasi wisatawan. Kondisi fasilitas, kebersihan, keamanan dan pengelolaan objek wisata tetap menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.
Ia menilai, destinasi yang sempat viral juga dapat mengalami penurunan popularitas. Karena itu, diperlukan upaya promosi dan pengelolaan berkelanjutan agar objek wisata tetap menarik bagi pengunjung.
Sementara itu, T. Muhammad Rayyan, mahasiswa jurusan Teknologi Informasi, mengatakan dirinya memanfaatkan AI sebagai alat bantu ketika merencanakan perjalanan. Salah satunya dengan meminta AI merangkum berbagai ulasan mengenai destinasi dari sejumlah platform.
“AI tidak akurat seratus persen. Saya juga menanyakan bagaimana kondisinya, apakah ada ulasannya. Itu sebagai titik pertimbangan,” ujar Rayyan.
AI juga dimanfaatkannya untuk mengetahui persiapan sebelum melakukan perjalanan, terutama ketika hendak mengunjungi kawasan alam seperti hutan atau pegunungan. Informasi mengenai perlengkapan yang perlu dibawa dan hal-hal yang harus diwaspadai dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum berangkat.
Meski demikian, Rayyan menekankan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan hubungan emosional antarmanusia. Menurut dia, interaksi dengan masyarakat lokal justru menjadi bagian penting dari pengalaman travelling.
“Ada satu yang tidak dimiliki AI, yaitu kemampuan emosional antara manusia. AI bisa memberikan jawaban, tetapi tidak ada bonding antara manusia,” katanya.
Bagi kedua narasumber, pengalaman travelling tidak sebatas mengunjungi tempat yang indah atau mendapatkan foto untuk dibagikan di media sosial. Berinteraksi dengan masyarakat setempat juga dapat membuka pemahaman mengenai budaya, sejarah dan kehidupan sehari-hari suatu daerah.
Hal itu dinilai penting bagi Aceh yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya. Cerita yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk pengalaman masyarakat terhadap berbagai peristiwa sejarah, belum tentu terdokumentasikan secara lengkap di internet dan dapat ditemukan melalui AI.
Di sisi lain, Rayyan menilai AI tetap memiliki posisi penting sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber informasi. Wisatawan dapat menggunakan AI untuk memperoleh gambaran awal, tetapi informasi tersebut sebaiknya dilengkapi dengan pengalaman langsung dan komunikasi dengan masyarakat.
“Kalau bertanya dengan pelakunya atau orang yang berada di peristiwa itu secara langsung, lebih komprehensif,” ujarnya.
Keduanya juga mengingatkan wisatawan agar tidak sepenuhnya mengandalkan konten viral ketika menentukan destinasi. Foto dan video yang terlihat menarik di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Karena itu, wisatawan disarankan tetap mencari informasi mengenai fasilitas, keamanan, akses, kebersihan dan kondisi terbaru destinasi sebelum melakukan perjalanan.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh, kedua anggota Gesit tersebut juga mendorong agar tidak hanya mengandalkan teknologi. Wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat dan mengenal langsung sejumlah destinasi serta sejarah Aceh.
Dengan demikian, travelling di era AI bukan soal memilih antara teknologi atau pengalaman manusia. AI dapat digunakan untuk mempermudah perjalanan, tetapi petualangan, interaksi, budaya dan cerita dari manusia tetap menjadi bagian penting yang membuat sebuah perjalanan memiliki makna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....