Pariwisata Ramah Muslim Perkuat Branding Aceh di Dunia

  • 25 Jun 2026 18:19 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Pengembangan wisata syariah yang berkualitas dinilai menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat identitas Aceh sebagai destinasi unggulan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal. Hal tersebut mengemuka dalam Talkshow RRI Banda Aceh yang berlangsung di Portola Grand Arabia Hotel Banda Aceh, Senin (22/6/2026), dengan tema Menguatkan Identitas Aceh Melalui Wisata Syariah Berkualitas.”

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh Rosdi, ST, M.Si., Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Ismail, S.Pd., Kabid Pengembangan Syariah Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh Wirzaini Usman, S.Hi., M.I.Kom., Sales Cluster Portola Grand Arabia Hotel Banda Aceh Fitria Handayani, Pengurus Lembaga Pariwisata Nusa Muhammad Khaidir, serta Direktur Zalyan Tour & Travel Andi Rizal.

Kabid Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Aceh, Ismail, mengatakan bahwa Aceh terus mengembangkan konsep pariwisata yang kini lebih dikenal sebagai muslim friendly tourism atau wisata ramah muslim. Menurutnya, konsep tersebut merupakan pengembangan dari wisata syariah dan wisata halal yang selama ini menjadi identitas pariwisata Aceh.

Ia menjelaskan, Aceh telah menetapkan diri sebagai destinasi wisata halal tingkat internasional melalui Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2022 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Aceh. Berbagai penghargaan nasional yang diraih Aceh dalam kompetisi wisata halal menjadi bukti bahwa daerah ini memiliki daya saing yang kuat di sektor pariwisata berbasis nilai-nilai Islam.

"Pariwisata halal bukan hanya untuk wisatawan muslim, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi wisatawan nonmuslim melalui pelayanan yang aman, bersih, dan ramah," ujarnya.

Ismail menambahkan, pemerintah terus mendorong sertifikasi halal bagi pelaku usaha pariwisata, pembangunan sarana ibadah di destinasi wisata, serta penyediaan fasilitas pendukung yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim. Namun, keberhasilan pengembangan wisata ramah muslim, menurutnya, memerlukan dukungan masyarakat dan pelaku usaha.

Pengembangan wisata syariah yang berkualitas dinilai menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat identitas Aceh sebagai destinasi unggulan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal. Hal tersebut mengemuka dalam Talkshow RRI Banda Aceh yang berlangsung di Portola Grand Arabia Hotel Banda Aceh, Senin (22/6), dengan tema Menguatkan Identitas Aceh Melalui Wisata Syariah Berkualitas.”Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh Rosdi, ST, M.Si., Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Ismail, S.Pd., Kabid Pengembangan Syariah Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh Wirzaini Usman, S.Hi., M.I.Kom., Sales Cluster Portola Grand Arabia Hotel Banda Aceh Fitria Handayani, Pengurus Lembaga Pariwisata Nusa Muhammad Khaidir, serta Direktur Zalyan Tour & Travel Andi Rizal. Foto : RRI/Lis

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Rosdi, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh berkomitmen menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan tanpa mengesampingkan penerapan syariat Islam.

Menurutnya, masih terdapat persepsi keliru di luar Aceh yang menganggap penerapan syariat Islam membuat wisatawan merasa tidak nyaman. Padahal, kondisi di lapangan menunjukkan sebaliknya.

"Banyak wisatawan yang datang ke Banda Aceh merasa aman dan nyaman. Kota ini relatif bebas dari berbagai gangguan keamanan yang kerap ditemukan di daerah lain. Nilai-nilai syariah justru menghadirkan ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan bagi wisatawan," kata Rosdi.

Ia menyebutkan bahwa Banda Aceh terus memperkuat promosi pariwisata melalui berbagai kegiatan nasional serta pengembangan destinasi yang mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan di ibu kota provinsi tersebut.

Dari sisi regulasi, Kabid Pengembangan Syariah Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Wirzaini Usman, menilai sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam memperkenalkan identitas Aceh kepada dunia.

Menurutnya, pelaksanaan syariat Islam tidak boleh dipahami secara sempit. Syariat tidak hanya berbicara mengenai penegakan hukum, tetapi juga mencakup tata kelola kehidupan masyarakat yang memberikan rasa aman, nyaman, dan tertib, termasuk dalam sektor pariwisata.

"Pariwisata yang berkembang dalam koridor syariat Islam akan memperkuat identitas Banda Aceh sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Wirzaini mengatakan, Pemerintah Kota Banda Aceh terus melakukan pembinaan, sosialisasi, dan pengawasan melalui berbagai perangkat yang ada hingga tingkat gampong guna memastikan nilai-nilai syariat berjalan selaras dengan aktivitas kepariwisataan.

Dukungan terhadap konsep wisata syariah juga datang dari sektor perhotelan. Sales Cluster Portola Grand Arabia Hotel Banda Aceh, Fitria Handayani, menjelaskan bahwa hotel-hotel di Aceh telah menerapkan standar pelayanan yang sesuai dengan nilai-nilai syariah.

Penerapan tersebut meliputi penyediaan makanan dan minuman halal, fasilitas ibadah yang memadai, penunjuk arah kiblat, Al-Qur'an dan sajadah di kamar, hingga penerapan aturan bagi tamu yang menginap.

Menurut Fitria, sebagian wisatawan yang baru pertama kali datang ke Aceh sering kali memiliki kekhawatiran terkait penerapan syariat Islam. Namun setelah berkunjung, mereka justru merasakan suasana yang aman dan nyaman.

"Selama ini kami tidak menemukan keluhan negatif terkait penerapan syariat Islam. Wisatawan justru merasa nyaman dan menghargai aturan yang berlaku di Aceh," katanya.

Direktur Zalyan Tour & Travel, Andi Rizal, mengungkapkan bahwa minat wisatawan terhadap Aceh terus menunjukkan tren positif, terutama dari Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

Ia menjelaskan bahwa wisatawan mancanegara tertarik melihat secara langsung kehidupan masyarakat muslim di Aceh yang tetap menjaga budaya dan tradisi Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, tiga daya tarik utama Aceh saat ini adalah wisata tsunami, sejarah peradaban Islam, serta wisata alam dan bahari.

"Justru identitas Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat bagaimana nilai-nilai Islam hidup dalam masyarakat," ujarnya.

Andi juga menyoroti pentingnya peningkatan aksesibilitas menuju berbagai destinasi wisata, khususnya kawasan dataran tinggi Gayo yang sempat terdampak banjir pada akhir 2025. Ia menilai perbaikan infrastruktur transportasi akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Pengurus Lembaga Pariwisata Nusa, Muhammad Khaidir, menjelaskan bahwa Kampung Nusa mengembangkan konsep desa wisata berbasis masyarakat dalam bingkai syariat Islam.

Menurutnya, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam dan budaya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui program homestay, wisata edukasi, hingga pembelajaran berbagai kearifan lokal Aceh.

"Kami ingin wisatawan memperoleh pengalaman langsung tentang budaya Aceh, nilai-nilai Islam, dan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi semangat memuliakan tamu," katanya.

Ia menambahkan, sejumlah program seperti edukasi kuliner tradisional, pembuatan asam sunti, anyaman daun kelapa, hingga cerita ketangguhan masyarakat Aceh pascatsunami menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....