Budaya Takzim Memudar, Guru Kini Ragu Mendidik
- 31 Jan 2026 17:07 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: Perubahan sikap siswa terhadap guru dari masa ke masa menjadi perhatian serius kalangan pendidik. Jika dahulu siswa dikenal memiliki rasa segan, patuh, dan takzim yang tinggi kepada guru, kini nilai-nilai tersebut dinilai mulai memudar. Kondisi ini berdampak pada hubungan pembelajaran di sekolah, bahkan membuat sebagian guru ragu dalam menegur atau membina siswa.
Ketua Biro Advokasi dan Hukum PGRI Aceh sekaligus Kepala SMAN 2 Kuta Baro, Sofyan S.Pd., M.Pd, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 2 Banda Aceh, Jumat (30/1/2026) mengatakan pada masa lalu penghormatan kepada guru bukan sekadar formalitas, melainkan lahir dari pendidikan keluarga dan budaya sekolah. Menurutnya, para alumni masih mengenal dan menjaga silaturahmi dengan guru-guru mereka karena adanya rasa hormat yang kuat sejak dini.
“Kalau anak-anak dulu tingkat takzim kepada guru itu tinggi sekali. Guru SD, SMP, SMA masih kita kenal dan kita hormati sampai sekarang. Itu terbentuk dari didikan keluarga dan sekolah. Bukan sekadar menghormati, tapi ada kepatuhan dan rasa segan kepada guru sebagai pemberi ilmu,” ujar Sofyan.
Namun, di lapangan saat ini, ia melihat adanya pergeseran sikap. Tidak sedikit guru yang merasa khawatir atau takut saat hendak menegur siswa yang melanggar aturan, terutama karena kekhawatiran terhadap konsekuensi hukum atau laporan dari orang tua. Situasi tersebut, kata dia, membuat proses pembinaan karakter menjadi kurang maksimal.
Sofyan menyebut, selama ini sebagian guru merasa belum memiliki perlindungan yang kuat. Karena itu, ia menyambut baik terbitnya Peraturan Menteri Nomor 6 Tahun 2026 tentang budaya aman dan nyaman di sekolah, serta regulasi perlindungan guru. Aturan ini dinilai memberi kepastian hukum sekaligus keberanian bagi guru untuk menjalankan tugas mendidik.
“Kami sangat bersyukur. Sekarang sudah ada peraturan menteri tentang perlindungan guru dan budaya aman serta nyaman di sekolah. Ini terobosan besar dari pemerintah. Guru jadi lebih terlindungi saat membina siswa, dan fokus kita bisa kembali pada pembentukan karakter anak-anak,” katanya.
Ia berharap, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang yang aman, nyaman, dan penuh penghormatan antara siswa dan guru. “Bukan hanya rumah yang harus nyaman, sekolah juga harus begitu. Kalau budaya takzim ini kita hidupkan kembali, insyaallah pendidikan karakter anak-anak akan jauh lebih baik,” tutup Sofyan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....