Mengelola Sampah Dimulai dari Rumah

  • 21 Jan 2026 20:34 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Komunitas menjadi salah satu aktor penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah di Banda Aceh.

Dalam program Ngobras Ngobrol Bareng Komunitas yang disiarkan Pro 1 RRI Banda Aceh, Selasa malam (20/1/2026), Ketua Yayasan sekaligus trainer kamiKITA Community Center, Henni Cahyanti, mengatakan persoalan sampah tidak semata-mata soal teknis pengolahan, tetapi sangat erat dengan pola pikir masyarakat. Menurutnya, selama sampah dianggap menjijikkan dan tidak bernilai, maka kebiasaan membuang sembarangan akan terus terjadi.

“Sampah itu bukan musuh. Yang salah itu cara kita memperlakukannya. Sampah yes, nyampah no. Kita ingin mengembalikan harga diri sampah,” ujar Henni.

Ia menjelaskan, kamiKITA Community Center lahir dari praktik sederhana urban farming yang berkembang menjadi ruang belajar bersama, khususnya sejak masa pandemi COVID-19. Dari aktivitas berkebun, komunitas ini kemudian terlibat dalam pengolahan sampah organik menjadi kompos melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kalau kita bicara data, satu orang di Banda Aceh itu bisa menghasilkan sekitar 800 gram sampai satu kilogram sampah per hari. Kalau sampah itu kita olah sendiri, sebenarnya selesai,” katanya.

Sementara itu, pegiat lingkungan sekaligus trainer dari Komunitas Terminal Kreasi, Reza Gunawan, menilai rendahnya kesadaran pengelolaan sampah sudah menjadi persoalan budaya yang membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

“Kesadaran itu sebenarnya ada, tapi yang kurang adalah tindakan. Kita sudah tahu sampah itu masalah, tapi mau enggak kita berubah?” ujar Reza.

Ia menegaskan, solusi sampah sangat bergantung pada regulasi dan ketegasan kebijakan, namun partisipasi masyarakat tetap menjadi kunci utama. Reza juga menyoroti dampak lanjutan sampah, seperti mikroplastik yang sudah masuk ke rantai makanan dan berisiko terhadap kesehatan generasi mendatang.

“Kalau kita terus begini, pilihannya cuma dua, ubah gaya hidup sekarang atau tunggu bencana datang,” katanya.

Henni menambahkan, pendekatan paling sederhana dalam pengelolaan sampah adalah mengurangi dari sumbernya. Menurutnya, konsep reduce jauh lebih mudah dan murah dibandingkan daur ulang yang membutuhkan waktu, pasar, dan energi.

“Recycle itu tidak segampang yang dibayangkan. Yang paling penting justru reduce, mengurangi dari awal. Kalau tidak mampu mengolah, maka cegah,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Reza mengatakan komunitas hadir sebagai ruang diskusi dan kolaborasi, bukan sebagai pengelola sampah masyarakat. Ia menekankan bahwa Banda Aceh tidak membutuhkan bantuan semata, melainkan keterlibatan aktif seluruh warganya.

“Kita nyampah, ya kita yang beresin sampah kita sendiri. Itu bentuk partisipasi paling sederhana,” kata Reza.

Melalui kolaborasi komunitas, edukasi berkelanjutan, dan perubahan perilaku individu, para narasumber berharap Banda Aceh dapat benar-benar menjadi kota kolaborasi yang mampu menyelesaikan persoalan sampah dari akar rumput.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....