Peran Balee Inong Menguatkan Perempuan Aceh Hadapi Bencana
- 21 Jan 2026 11:43 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh -Perempuan Aceh dinilai memiliki peran strategis dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Melalui penguatan komunitas Balee Inong, perempuan tidak lagi ditempatkan semata sebagai kelompok rentan, tetapi sebagai aktor utama dalam mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan pascabencana.
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Perempuan dan Anak RRI Banda Aceh bertema “Perkuat Peran Perempuan (Balee Inong) dalam Ketangguhan Bencana di Aceh”, yang menghadirkan Ketua Balee Inong Kota Banda Aceh, Hj. Jamilah, S.D., M.Pd., serta Ketua Balee Inong Bungong Kemang gp. Cirih Uleekareng, Kasmawati, Pada Senin (19/1/2026).
Kasmawati menjelaskan bahwa Balee Inong Bungong Kemang Cirih menaungi tiga gampong, yakni Cirih, Pangoraya, dan Pangodeah. Di tingkat gampong, perempuan berperan vital bukan hanya sebagai pihak yang dilindungi, tetapi sebagai penggerak penanggulangan bencana.
“Perempuan kami dorong untuk aktif, mulai dari edukasi kebersihan lingkungan, mitigasi banjir, hingga kesiapsiagaan menghadapi dampak bencana di wilayah sekitar,” ujarnya.
Aceh, yang berada di wilayah ring of fire, rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan banjir. Untuk konteks perkotaan seperti Banda Aceh, ancaman banjir dinilai lebih banyak dipicu persoalan lingkungan, seperti drainase tersumbat dan pengelolaan sampah yang buruk. Di sinilah peran perempuan menjadi krusial.
“Kami mengedukasi perempuan agar menjadi garda terdepan menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon dengan perakaran kuat, serta memilah sampah agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga,” kata Kasmawati.
Selain mitigasi lingkungan, Balee Inong juga secara rutin memasukkan edukasi kebencanaan dalam program tahunan. Sosialisasi mitigasi minimal dilakukan setahun sekali agar perempuan dan keluarga memiliki pemahaman dasar tentang langkah penyelamatan diri saat bencana terjadi.
Ketua Balee Inong Kota Banda Aceh, Hj. Jamilah, menambahkan bahwa penguatan kapasitas perempuan juga dilakukan melalui Musyawarah Rencana Aksi Kaum Perempuan (Musrena). Forum ini menjadi ruang strategis bagi perempuan untuk menyampaikan kebutuhan spesifik yang kerap luput dari perencanaan pembangunan, termasuk aspek kebencanaan.
“Kebutuhan perempuan sering kali tidak dipahami oleh laki-laki, seperti ruang laktasi, akses sanitasi, hingga perlindungan ibu hamil dan lansia saat bencana. Semua itu kami suarakan melalui Musrena,” ujarnya.
Menurut Jamilah, literasi kebencanaan harus dibangun sejak tingkat keluarga. Perempuan, dengan peran gandanya sebagai ibu, pengelola rumah tangga, dan pelaku ekonomi, memiliki posisi penting dalam memastikan keselamatan anggota keluarga, termasuk anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia.
Salah satu praktik sederhana namun krusial yang terus didorong adalah kepemilikan tas siaga bencana di setiap keluarga. Tas ini berisi dokumen penting, kebutuhan dasar, dan perlengkapan darurat yang mudah dibawa saat evakuasi.
“Banyak korban bencana kehilangan ijazah, akta, dan surat penting karena tidak siap. Tas siaga ini terlihat sederhana, tapi dampaknya besar,” ujar Jamilah.
Dalam konteks pascabencana, peran perempuan juga menonjol dalam pemulihan ekonomi dan penyembuhan trauma. Balee Inong terlibat dalam penggalangan donasi, penguatan UMKM keluarga, hingga kegiatan trauma healing berbasis sosial dan keagamaan.
Rencananya, Balee Inong Kota Banda Aceh akan melakukan kunjungan kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana pada akhir Januari, dengan fokus pada dukungan psikososial bagi perempuan dan anak.
“Bencana bukan hanya merusak rumah dan harta, tetapi juga meninggalkan luka batin. Kehadiran, empati, dan penguatan spiritual menjadi bagian penting dari pemulihan,” kata Jamilah.
Dialog tersebut juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Balee Inong menggandeng pemerintah daerah, dinas terkait, aparatur gampong, hingga organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Menutup dialog, para narasumber mengajak perempuan Aceh untuk percaya pada kekuatan diri dan solidaritas sesama. Perempuan, ditegaskan mereka, memiliki kapasitas besar untuk melindungi keluarga, menggerakkan komunitas, serta menjadi agen perubahan dalam membangun Aceh yang lebih tangguh menghadapi bencana.
“Di dalam diri perempuan ada kekuatan luar biasa. Jangan ragu mengambil peran, karena ketangguhan Aceh juga bertumpu pada ketangguhan perempuannya,” pungkas Jamilah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....