Strategi Rantai Pasok Nyunti Tembus Pasar

  • 19 Jan 2026 17:13 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Nyunti, merek dagang UMKM Aceh dengan produk olahan sambal sunti khas Aceh, kini berhasil menembus pasar digital. Produk ini bahkan menarik perhatian sejumlah instansi pemerintah untuk melakukan pembinaan, di antaranya Bank Indonesia dan Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh. Hal tersebut disampaikan Akmal Luthfi Adha Siregar, Staf Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Aceh, saat dihubungi RRI, Senin (19/1/2026).

Menurut Akmal, keunikan produk Nyunti serta konsistensi kualitasnya membuat sambal sunti ini selalu diminati dalam berbagai ajang bazar. Dari situ, Nyunti menyadari bahwa pengelolaan rantai pasok yang tepat menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Nyunti memiliki rantai pasok yang menonjol dari hulu hingga hilir. Ini menjadi strategi utama agar UMKM tetap bertahan di tengah persaingan kuliner saat ini,” ujar Akmal.

Ia menjelaskan, struktur rantai pasok Nyunti sudah tergolong lengkap, mulai dari pemasok hingga pelanggan akhir. Pada sisi pemasok, bahan baku kemasan plastik luar didatangkan dari Bandung, sementara kemasan aluminium foil atau kantong retort dipasok dari Jakarta. Kemasan ini menjadi kesan pertama yang memperkuat citra produk Nyunti.

Untuk bahan baku utama, yakni kerang, Nyunti memasok langsung dari pesisir Aceh Jaya, khususnya wilayah Tenoum. Kerang dari pesisir Meulaboh juga menjadi alternatif apabila pasokan dari Aceh Jaya tidak mencukupi. Sementara bumbu khas Nyunti yang menentukan cita rasa otentik diperoleh dari pasar tradisional di Aceh Besar.

Akmal menambahkan, distribusi produk Nyunti dilakukan melalui dua skema, yakni business to business (B2B) dan business to consumer (B2C). Skema B2B dilakukan dengan menitipkan produk di toko oleh-oleh, toko bumbu, dan toko suvenir di Pasar Aceh, yang mayoritas pembelinya merupakan wisatawan dan pendatang.

Sementara itu, skema B2C dilakukan dengan menjual produk secara langsung kepada konsumen melalui toko, media sosial Instagram, serta platform daring seperti Shopee dan WhatsApp.

Dalam aspek logistik, Nyunti menerapkan sistem produksi tanpa penyetokan bahan baku. Seluruh bahan yang dibeli langsung diolah menjadi sambal, sementara sisa bahan disimpan di lemari pendingin untuk diproses keesokan harinya. Produk akhir pun tidak disimpan dalam waktu lama, melainkan langsung didistribusikan ke pasar atau dipajang di toko.

“Pelanggan Nyunti cukup beragam, namun didominasi oleh pegawai Bank Indonesia dan wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Pelanggan baru biasanya diperoleh saat Nyunti mengikuti dan memenangkan event bazar,” jelas Akmal.

Ia menyebutkan, pelanggan potensial Nyunti juga berasal dari jaringan pelanggan tetap dan rekomendasi pelanggan baru, yang menjadi peluang perluasan pasar ke depan.

Untuk meningkatkan daya saing, Nyunti telah menerapkan strategi rantai pasok yang terintegrasi dan adaptif. Pengelolaan ini tidak hanya memastikan ketersediaan bahan baku dan kelancaran produksi, tetapi juga menjaga kualitas produk, efisiensi biaya, serta kecepatan distribusi.

Pada tahap awal produksi, Nyunti merebus kerang menggunakan kayu bakar sebagai upaya efisiensi biaya. Namun seiring pengembangan usaha, penggunaan kerang yang telah direbus oleh pemasok terbukti mampu menekan biaya produksi secara signifikan.

Selain itu, Nyunti juga menerapkan inovasi pengolahan modern dengan teknologi retort, yakni metode sterilisasi makanan pada suhu tinggi sekitar 121 derajat Celsius selama kurang lebih 40 menit. Proses ini membuat produk tahan lama tanpa bahan pengawet, tetap higienis, dan aman dikonsumsi, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh khas Aceh.

Sebagai UMKM binaan Bank Indonesia, Nyunti juga memanfaatkan berbagai program pembinaan dan karantina mutu untuk meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, serta profesionalisme manajemen usaha. Jaringan ini turut memperluas pasar, terutama melalui pegawai Bank Indonesia yang kerap membeli produk Nyunti untuk dibawa ke daerah asal.

Akmal menilai, Nyunti membuktikan bahwa manajemen rantai pasok yang baik mampu membuat UMKM bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar. Meski demikian, tantangan seperti keterbatasan pasokan bahan baku, perluasan pasar, dan penguatan legalitas produk masih perlu dihadapi.

“Dengan fleksibilitas sebagai UMKM, Nyunti memiliki peluang besar untuk terus beradaptasi, memperbaiki proses, dan menjaga keberlanjutan usaha,” tutup Akmal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....