Problema Generasi Sandwich di Kalangan Gen-Z

  • 22 Mei 2024 23:04 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Sandwich generation merupakan istilah yang digunakan orang-orang untuk mereka yang memiliki beban tanggung jawab untuk menghidupi dan merawat keluarganya. Istilah sandwich generation diambil karena seseorang dianggap seperti sandwich atau roti lapis yang memiliki banyak lapisan yang mana kita adalah isi dari sandwich yang ‘terhimpit’ oleh dua roti yang dianalogikan sebagai beban tanggunan yang menekan kita.

Tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang yang merupakan sandwich generation beragam, mulai dari kerja untuk membiayai kehidupannya, bertanggung jawab atas keuangan keluarga dengan membiayai kehidupan orang tua dan keluarga, bertanggung jawab membiayai pendidikan kakak/adik, dan ada pula yang bekerja sambil merawat keluarganya yang sakit dan masih banyak masalah lain yang harus dihadapi.

Generasi sandwich umumnya diperuntukkan untuk mereka yang sudah bekerja, sehingga dapat dilihat bahwa sandwich generation ada pada usia produktif. Melansir dari laman CNBC Indonesia, berdasarkan survei yang mereka lakukan kepada 1.828 responden yang masuk pada kategori usia produktif (25-45 tahun) dari seluruh Indonesia, terdapat 48,7% masyarakat yang memiliki tanggungan finansial atas keluarganya.

Gen Z pun termasuk bagian daripada sandwich generation karena Gen Z sudah mulai menginjak usia 25-27 tahun. Namun tak bisa dipungkiri, kini banyak dari Gen Z yang bahkan belum masuk pada usia produktif sudah bekerja untuk membantu finansial keluarganya bahkan menjadi tulang punggung keluarganya. Hal ini terjadi dikarenakan keterbatasan orang tua mereka untuk bekerja, keuangan rumah tangga yang tidak memadai, harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat, dll. Sehingga banyak Gen Z yang kini termasuk Sandwich Generation.

Berikut beberapa problema yang kerap dirasakan oleh generasi sandwich:

1. Dituntut untuk bertanggung jawab penuh kepada keluarga

Sebagai generasi sandwich tidak hanya memenuhi finansial keluarga saja, namun juga bertanggung jawab dalam merawat keluarga seperti orang tua yang mungkin sudah lanjut usia,dan merawat adik adik dalam masa pertembuhan,bahkan generasi sandwich bisa bertangung jawab untuk dua generasi apabila ia sudah memiliki keluarga, Hal ini

menyebabkan sandwich generation menjadi kesulitan membagi waktu antara orang tuanya, keluarga dan pasangannya, dikarenakan terlalu banyak tanggung jawab mereka pikul.

2. Kesulitan dalam finansial.

Genarasi sandwich juga di hadapkan oleh kesulitan dalam menangangi finansialnya,dimana tidak hanyak berkerja saja namun,generasi sandwich di tuntut untuk memenuhi kebetuhan keseluruhan keluarga,sehingga berdampak pada finansialnya sendiri yang tidak berkembang dengan baik.

3. Kesulitan dalam merencanakan masa depannya

Selain itu generasi sandwich juga susah merencankan masa depan, dimana ia harus memikirkan pengeluaran yang akan ia keluarkan untuk orang tuanya dan keluarganya sehingga sangat sulit untuk ia menabung atau menginvestasikan sesuatu untuk menjamin kelayakan masa depannya, pekerjaan yang ia jalankan belum tentu bisa mencukupi semua kebutuhan,sehingga di harapkan generasi sandwich harus lebih memperluas jaringan atau koneksi dan relasi.

4. Berpotensi mengalami depresi

Generasi sandwich biasanya lebih gampang merasa tertekan,mereka mengalami masalah psikologi,karna mereka di tuntut memikirkan seluruh kebutuhan yang menjadi tanggung jawab mereka,genarasi sandwich seakan di wajibkan untuk bekerja keras,dan memikul seluruh masalah yang terjadi pada keluarganya,di tambah mereka menjadi susah membagi waktu antara bekerja,melakukan hobi atau sekedar melakukan hal yang menyenangkan bagi mereka,masalah masalah tersebut memicu seseorang tersebut menjadi depresi dan berpengaruh pada psikologinya.

Maka dari itu sandwich generation dituntut untuk bisa mengatur keuangan dengan bijak, hal tersebut bertujuan untuk menghindari tekanan finansial yang berlebihan demi persiapan kesejahteraan finansial jangka panjang, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk kedua generasi yang mereka tanggung. Kemampuan untuk mengatur keuangan dengan baik tidak hanya memberikan perlindungan finansial bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga memberikan ketenangan pikiran untuk menghadapi tantangan finansial yang mungkin muncul di masa mendatang.

Terdapat beberapa upaya mengelola keuangan dengan bijak yang dapat dilakukan, upaya yang pertama ialah dengan menabung untuk dana darurat, karena pada dasarnya kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi kedepannya, menabung merupakan salah satu bentuk antisipasi yang bisa dilakukan demi menjamin kesejahteraan finansial kedepannya, langkah paling mudah yang dapat dilakukan ketika menabung ialah dengan memotong pengeluaran yang tidak penting atau mengurangi biaya tertentu untuk meningkatkan jumlah uang yang dapat disisihkan untuk tabungan dana darurat.

Upaya berikutnya yang dapat dilakukan ialah dengan berinvestasi dengan cermat dan tepat, seperti berinvestasi pada saham perusahaan dengan potensi pertumbuhan yang kuat dalam jangka waktu yang panjang atau berinvestasi di bidang property sebagai bentuk investasi jangka panjang, sandwich generation dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam bentuk properti komersial atau properti residensial untuk yang dapat disewakan sehingga dapat menjadi pemasukan tambahan.

Lalu upaya yang terakhir dalam mengelola keuangan ialah merencanakan masa pensiun dengan membangun tabungan pensiun yang cukup dan merencanakan warisan bagi generasi selanjutnya. Dengan upaya-upaya pengelolaan uang yang tepat dan tindakan yang konsisten, diharapkan sandwich generation dapat mencapai tujuan keuangan jangka panjang mereka dengan lebih baik.

Opini pada artikel ini disusun oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi USK (Universitas Syiah Kuala)

Penulis: Siti Kanesyah Sofya, Nur Azizah, Shofya Dara Phonna, dan Alivya Ananda Gasehna.




google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....