Gelembung Gas Aceh Timur Diduga Berasal dari Gas Biogenik

  • 17 Jul 2026 21:42 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Fenomena gelembung gas yang muncul setelah semburan lumpur di Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, dipastikan masih dalam tahap pemantauan. Berdasarkan hasil kajian awal, kemunculan gas tersebut diduga berasal dari gas biogenik dangkal, bukan dari reservoir migas yang berada di kedalaman bumi.

Hal itu disampaikan dalam program Talkshow Banda Aceh Menyapa RRI Banda Aceh Programa 1, Selasa (14/7/2026), yang menghadirkan Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Dr. Dian Budi Dharma, S.T., M.T., Kepala Laboratorium Geofisika Reservoir dan Modelling Universitas Syiah Kuala, Dr. Ing. Ir. Asrillah, S.Si., M.Sc., serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Syahrizal Fauzi, S.STP., M.A.P.

Kabid Migas ESDM Aceh, Dr. Dian Budi Dharma, menjelaskan bahwa peristiwa serupa bukan pertama kali terjadi di kawasan pantai timur Aceh. Menurutnya, sejumlah kejadian sebelumnya juga ditemukan di wilayah Aceh Timur, Aceh Tamiang, hingga Aceh Utara yang memiliki karakter geologi serupa.

Ia mengatakan kemunculan semburan umumnya dipicu pengeboran sumur air tanah yang menembus lapisan penyimpan gas dangkal atau gas pocket. Ketika lapisan penutup terbuka, gas yang memiliki tekanan lebih tinggi akan keluar ke permukaan bersama lumpur.

"Wilayah pantai timur Aceh memang memiliki kantong-kantong gas biogenik pada kedalaman dangkal. Fenomena seperti ini lazim terjadi ketika pengeboran menembus lapisan penutupnya," katanya.

Dian menjelaskan sebelum melakukan pemeriksaan lapangan, tim ESDM terlebih dahulu mempelajari kondisi geologi melalui peta bawah permukaan. Hasilnya menunjukkan lokasi semburan tidak berada di atas struktur geologi maupun reservoir minyak dan gas bumi.

Tim kemudian melakukan pengukuran suhu, salinitas, serta parameter kimia-fisika terhadap lumpur dan air sumur masyarakat. Suhu di titik semburan tercatat sekitar 35 derajat Celsius, sedangkan air sumur warga berkisar 28 derajat Celsius.

Menurutnya, suhu tersebut masih jauh di bawah karakteristik gas termogenik yang terbentuk pada temperatur tinggi. Selain itu, tingkat salinitas air juga tidak menunjukkan ciri fluida yang berasal dari reservoir migas.

"Hasil pengukuran menunjukkan fenomena ini mengarah pada gas biogenik yang terbentuk secara alami di lapisan dangkal dan diperkirakan intensitasnya akan terus menurun dalam beberapa minggu ke depan," ujarnya.

Fenomena gelembung gas yang muncul setelah semburan lumpur di Gampong Meunasah Teungoh, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, dipastikan masih dalam tahap pemantauan. Berdasarkan hasil kajian awal, kemunculan gas tersebut diduga berasal dari gas biogenik dangkal, bukan dari reservoir migas yang berada di kedalaman bumi.Hal itu disampaikan dalam program Talkshow Banda Aceh Menyapa RRI Banda Aceh Programa 1, Selasa (14/7), yang menghadirkan Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Dr. Dian Budi Dharma, S.T., M.T., Kepala Laboratorium Geofisika Reservoir dan Modelling Universitas Syiah Kuala, Dr. Ing. Ir. Asrillah, S.Si., M.Sc., serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Syahrizal Fauzi, S.STP., M.A.P. Foto : RRI/Lis.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Geofisika Reservoir dan Modelling USK, Dr. Ing. Ir. Asrillah, menjelaskan gas biogenik terbentuk akibat proses pembusukan material organik seperti gambut pada temperatur rendah, yakni di bawah 75 derajat Celsius.

Menurutnya, kawasan Aceh Timur memiliki kondisi geologi berupa bekas rawa dan lahan gambut yang memang memungkinkan terbentuknya gas biogenik secara alami.

Ia menegaskan gas tersebut berbeda dengan gas termogenik yang berasal dari proses pembentukan minyak dan gas bumi pada kedalaman lebih besar dengan temperatur tinggi.

"Gas biogenik terbentuk sangat dangkal melalui aktivitas bakteri. Ketika pengeboran menembus lapisan penutupnya, gas akan mencari jalur keluar menuju permukaan," jelasnya.

Asrillah menilai fenomena tersebut tidak boleh disikapi dengan spekulasi. Ia mendorong pemerintah bersama perguruan tinggi meningkatkan edukasi kepada masyarakat, termasuk mengenai karakteristik wilayah yang berpotensi memiliki gas dangkal.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial sebelum memperoleh penjelasan resmi dari instansi berwenang.

"Informasi mengenai kondisi lapangan harus berbasis hasil pengukuran ilmiah. Masyarakat perlu melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi agar tidak memicu kepanikan," katanya.

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur, Syahrizal Fauzi, mengatakan kondisi di sekitar lokasi semburan saat ini relatif terkendali. Namun, tiga kepala keluarga masih direlokasi sementara ke rumah kerabat sebagai langkah antisipasi.

BPBD bersama pemerintah daerah juga menempatkan personel siaga di Kecamatan Madat dan Simpang Ulim untuk mempercepat respons apabila terjadi perkembangan baru.

Selain itu, pemerintah masih memberlakukan pembatasan aktivitas di sekitar lokasi semburan. Warga, terutama anak-anak dan lanjut usia, diimbau tidak mendekati area dalam radius sekitar 20 meter dari titik semburan kecuali untuk kepentingan mendesak dengan pendampingan aparat desa.

"Kami terus melakukan koordinasi dengan perangkat desa, Muspika, serta instansi teknis. Jika muncul titik semburan baru, masyarakat diminta segera melapor melalui aparatur gampong agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dinas ESDM Aceh juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi juru bor air tanah. Menurut Dian, operator pengeboran harus mampu mengenali tanda-tanda peningkatan tekanan di dalam lubang bor, seperti munculnya gelembung sebelum semburan terjadi.

Ia berharap ke depan para juru bor memiliki sertifikasi dan pemahaman yang memadai sehingga mampu menghentikan pengeboran lebih awal ketika menemukan indikasi bahaya.

Menutup dialog, para narasumber sepakat bahwa penanganan fenomena geologi harus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga teknis, dan masyarakat. Mereka mengimbau warga tetap tenang, mengikuti arahan petugas, serta mengandalkan informasi dari sumber resmi hingga proses pemantauan dinyatakan selesai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....