Arafah, Muzdalifah, dan Mina, Madrasah Spiritual menuju Haji Mabrur

  • 12 Jun 2026 17:19 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Aceh Besar – Widyaiswara Ahli Madya Balai Diklat Keagamaan (BDK) Aceh, Nazarullah, menegaskan bahwa kemabruran haji tidak hanya ditentukan oleh selesainya seluruh rangkaian ritual ibadah, tetapi juga oleh keberhasilan jamaah dalam menaklukkan ego, memperbaiki akhlak, serta membangun karakter selama menjalani proses spiritual di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Menurut Nazarullah, Armuzna merupakan fase paling penting dalam pelaksanaan ibadah haji karena menjadi madrasah spiritual yang membentuk jati diri seorang muslim untuk meraih predikat haji mabrur. Pandangan tersebut disampaikannya saat mengulas makna dan hikmah ibadah haji di tengah berlangsungnya pergerakan jamaah haji Aceh dari Makkah menuju Madinah pada 8–21 Juni 2026.

"Kemabruran tidak lahir begitu saja. Predikat haji mabrur merupakan hasil dari proses pendidikan spiritual yang berlangsung di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di sanalah manusia diuji untuk mengenal dirinya, merendahkan ego, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT," ujar Nazarullah.

Nazarullah yang juga calon jamaah haji asal Aceh tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Banda Aceh (BTJ) menjelaskan, wukuf di Arafah merupakan puncak seluruh rangkaian ibadah haji sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Al-Hajju Arafah (Haji itu adalah Arafah).

Ia mengatakan, Arafah menjadi ruang kontemplasi yang mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan. Karena itu, momentum wukuf harus dimanfaatkan untuk memperbanyak doa, zikir, istigfar, dan muhasabah diri.

"Di Arafah tidak ada lagi perbedaan antara yang kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Semua berdiri sama di hadapan Allah SWT untuk memohon ampunan dan rahmat-Nya," katanya.

Setelah wukuf, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan kerikil yang akan digunakan saat lontar jumrah di Mina. Menurut Nazarullah, fase ini mengajarkan nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap ketentuan ibadah.

Sementara itu, Mina menjadi fase yang sarat ujian fisik dan mental. Jamaah harus menghadapi cuaca panas, kepadatan manusia, perjalanan yang cukup jauh menuju lokasi lontar jumrah, hingga antrean panjang dalam memenuhi berbagai kebutuhan selama ibadah.

"Ujian terbesar di Mina bukan semata-mata kelelahan fisik, tetapi bagaimana seseorang mampu mengendalikan emosi, bersabar dalam antrean, menghormati hak orang lain, dan menunjukkan kepedulian kepada sesama jamaah," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa lontar jumrah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas melempar kerikil ke tiang jamarah, melainkan simbol perlawanan terhadap berbagai sifat buruk dalam diri manusia.

"Yang sesungguhnya harus dilempar adalah kesombongan, amarah, egoisme, dan berbagai sifat buruk lainnya. Jika seseorang mampu mengalahkan itu semua, maka ia telah melewati salah satu ujian terbesar dalam perjalanan hajinya," tambah Nazarullah.

Ia menegaskan, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dilaksanakan. Kemabruran haji harus tercermin dalam perilaku sehari-hari setelah kembali ke tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.

"Haji mabrur bukan gelar yang otomatis melekat setelah pulang dari Tanah Suci. Kemabruran harus dibuktikan melalui akhlak yang lebih baik, kejujuran, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.

Nazarullah berharap seluruh jamaah haji Aceh dapat menjalani setiap tahapan ibadah dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan semangat kebersamaan. Ia juga mendoakan agar seluruh jamaah memperoleh kemudahan, kesehatan, serta keselamatan hingga kembali ke Tanah Air.

"Semoga seluruh jamaah haji Aceh memperoleh haji yang mabrur dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat serta membawa manfaat bagi umat dan daerah," pungkasnya.

Penulis: Rozza Maisyara

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....