Gerhana Bulan: Antara Mitos, Sains, dan Iman
- 07 Sep 2025 17:23 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Pada Minggu malam (7-8 September 2025), perhatian publik tersedot, langit akan ada tontonan kosmik. Langit akan menampilkan bulan merah darah yang memesona: gerhana bulan total. Namun, di balik itu, fenomena ini mengingatkan kita pada mitos, atau ingatan kolektif tafsir budaya yang masih melekat, yakni dikaitkan tanda bakal ada “bencana”. Dari masa ke masa, fenomena ini selalu memunculkan dua wajah: kagum dan khawatir.
Pertanyaannya, apakah gerhana benar pertanda bencana, atau sekadar fenomena astronomi biasa yang bisa dijelaskan oleh sains? Bagaimana perspektif Islam memaknai fenomena ini?
Sejarah Penafsiran Budaya
Sejak lama, manusia berusaha memberi makna pada gerhana bulan total. Di alam pikir budaya Jawa, fenomena ini dikenal dengan sebutan “bulan dimakan Batara Kala.” Masyarakat beradu bunyi dengan kentongan, lesung, atau benda logam untuk “menyelamatkan Bulan” dari ancaman gaib. Praktik tersebut bukan sekadar ritual, melainkan cara kolektif mengatasi rasa takut pada gelap yang tiba-tiba menyelimuti langit.
Di Bizantium dan Eropa Abad Pertengahan, gerhana sering ditulis dalam kronik sebagai pertanda perang, wabah, atau bencana besar. Warna merah darah pada Bulan dianggap simbol malapetaka. Kemunculan gerhana dihubungkan dengan jatuhnya kerajaan atau munculnya wabah mematikan, memperlihatkan betapa kuat pengaruh fenomena kosmik terhadap tafsir sosial-politik kala itu.
Sementara itu, dunia Islam menampilkan pendekatan berbeda. Alih-alih mitos, gerhana bulan direspons dengan shalat khusuf—shalat khusus gerhana—yang menekankan dimensi spiritual dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta. Tafsir ini menunjukkan pergeseran penting: dari ketakutan terhadap tanda gaib menuju penghayatan religius yang lebih menenangkan.
Pada intinya, di berbagai peradaban, gerhana bulan total selalu dimaknai lebih dari sekadar tontonan kosmik. Ia hadir sebagai simbol peringatan, ketakutan, sekaligus tanda perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Fakta Ilmiah
Secara ilmiah, gerhana bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada tepat dalam satu garis lurus. Posisi ini membuat Bumi menutup cahaya Matahari yang seharusnya jatuh ke Bulan. Alhasil, Bulan tampak meredup dan berwarna kemerahan karena cahaya Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi. Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai “bulan darah.”
Sains mengemukakan, tidak ada kaitan langsung antara gerhana bulan dengan gempa, tsunami, atau letusan gunung berapi. Hubungan sebab-akibat semacam itu hanyalah tafsir budaya atau kebetulan sejarah yang kemudian dicatat sebagai “tanda.” Ilmu pengetahuan modern memastikan bahwa gerhana adalah fenomena optik murni yang dapat diprediksi dengan sangat akurat hingga puluhan tahun ke depan.
Satu-satunya dampak nyata yang dapat dirasakan adalah efek visual di langit yang menawan, serta pasang surut ekstrem di lautan yang memang selalu terjadi pada fase bulan purnama. Itu pun merupakan konsekuensi gravitasi Bulan terhadap Bumi, bukan akibat gerhana itu sendiri.
Dimensi Iman dan Pertemuan Tiga Sudut Pandang
Meski sains memberi kepastian, Islam memberi penuntun bagaimana menyikapi. Nabi Muhammad SAW menegaskan: “Matahari dan Bulan adalah tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang.” Saat terjadi gerhana, beliau justru mengajak umat melaksanakan shalat khusuf, memperbanyak doa, zikir, dan sedekah.
Dalam tradisi Aceh, warisan syariat Islam membuat masyarakat tidak lagi mengaitkan gerhana dengan takhayul. Ketika bulan mulai meredup, tokoh agama mengajak masyarakatnya untuk datangi masjid-masjid dengan jamaah shalat gerhana. Bagi umat Islam, ini bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan momen mempertebal iman dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.
Ketiga sudut pandang ini—budaya, sains, dan iman—sebenarnya saling melengkapi. Budaya memberi gambaran bagaimana perjalanan manusia menafsirkan peristiwa langit. Sains menjelaskan mekanismenya secara pasti dan rasional. Sedangkan iman mengajarkan sikap: bukan takut atau kagum semata, melainkan mengambil hikmah spiritual.
Kita hari ini bisa mencermati tiga sudut pandang ini terhadap fenomena bulan. Kita bisa menempatkan sains tanpa menyingkirkan pemaknaan budaya, serta iman. Sains memberi penjelasan yang rasional, tetapi tradisi memberi makna dan kedalaman rasa tentang kemanusiaan. Iman menjadi penguat batin, mengingatkan kembali akan kebesaran Ilahi.
***
Gerhana bulan total bukan pertanda bencana. Ia adalah tontonan kosmik, peristiwa langit yang terjadi berkala. Peristiwa itu menghadirkan pembacaan secara ilmu, budaya, dan iman dalam satu bingkai. Jika nenek moyang pernah memukul kentongan untuk “menyelamatkan bulan,” kini kita bisa memukul kealpaan dengan ilmu pengetahuan untuk mengedukasi publik, sekaligus mempertebal keimanan.
Bagi masyarakat muslim, Aceh khususnya, gerhana bulan justru menjadi momen refleksi iman. Shalat khusuf bukan sekadar ritual, tetapi pengingat akan kebesaran Allah. Di titik ini, gerhana menghadirkan pesan mendalam: bahwa langit dan bumi tunduk pada ketentuan-Nya, dan manusia diajak untuk mempertebal rasa syukur serta kebersamaan.*
*Penulis opini: Fazil, S.S., M.I.Kom (Pegawai LPP RRI Banda Aceh)