Perjuangan Pergerakan Pendidikan Indonesia dalam Era Society 5.0

  • 17 Agt 2025 13:34 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025 merupakan momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang bangsa. Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang melibatkan berbagai elemen bangsa, termasuk para tokoh pendidikan. Mereka tidak hanya berjuang di medan politik dan diplomasi, tetapi juga membangun kesadaran nasional melalui jalur pendidikan. Pendidikan dijadikan sebagai senjata yang ampuh untuk membangkitkan semangat kebangsaan, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemerdekaan, dan mempersiapkan generasi yang tangguh menghadapi perubahan zaman.

Kini, delapan dekade setelah Proklamasi, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan baru yang jauh berbeda dengan masa kolonial. Era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat membawa kita memasuki Era Society 5.0. Konsep masyarakat ini menekankan pemanfaatan teknologi canggih—seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), dan big data—untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Tantangannya terletak pada bagaimana pendidikan mampu menyiapkan generasi penerus agar tetap berkarakter, bermartabat, sekaligus kompetitif dalam dunia yang semakin kompleks. Untuk itu, menengok kembali perjuangan tokoh-tokoh pendidikan masa lalu menjadi sangat relevan sebagai sumber inspirasi.

Pendidikan sebagai Perjuangan Kebangsaan Sejarah pergerakan nasional Indonesia memperlihatkan bahwa pendidikan selalu menjadi sarana strategis dalam melawan penjajahan. Tokoh-tokoh pendidikan memanfaatkan ruang belajar untuk menanamkan nilai kemerdekaan dan menumbuhkan kesadaran nasional. Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922. Lembaga ini bukan sekadar sekolah, tetapi wadah untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan kemandirian. Filosofinya yang terkenal—Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani—menjadi landasan bagi sistem pendidikan Indonesia hingga saat ini. Ki Hajar Dewantara juga dikenal kritis terhadap kebijakan kolonial, sebagaimana tampak dalam tulisannya “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya Aku Seorang Belanda”) yang membuatnya diasingkan ke Belanda. Tokoh lain, KH Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912. Organisasi ini tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah modern, rumah sakit, dan panti asuhan. Melalui Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan mendorong pembaruan pemikiran Islam, memperjuangkan kesejahteraan rakyat, dan menanamkan nilai kebangsaan. Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Dari pesantren ini lahir generasi ulama dan santri yang berperan dalam kebangkitan nasional. Pada tahun 1926, beliau mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Puncaknya, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada tahun 1945 yang mendorong rakyat, khususnya kaum santri, untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan. Di sisi lain, Dr. Sutomo bersama rekan-rekannya mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908. Organisasi ini menandai lahirnya gerakan nasional modern yang menekankan pentingnya pendidikan dan persatuan bangsa. Tidak kalah penting, Mohammad Syafei mendirikan INS Kayutanam di Sumatera Barat. Sekolah ini menekankan pendidikan karakter, kemandirian, serta keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dari sekolah inilah lahir banyak tokoh nasionalis yang berkontribusi bagi bangsa. Dari perjalanan sejarah tersebut, kita belajar bahwa pendidikan adalah ruang perjuangan yang efektif. Jika dulu pendidikan digunakan untuk melawan penjajahan, maka kini pendidikan harus menjadi sarana untuk menghadapi tantangan global.

Tantangan Pendidikan di Era Society 5.0

Memasuki Era Society 5.0, peran pendidikan menjadi semakin penting. Konsep masyarakat ini mengintegrasikan dunia fisik dan dunia digital, di mana teknologi digunakan untuk menyelesaikan masalah sosial. Namun, peluang ini sekaligus menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Pertama, derasnya arus informasi membuat peserta didik harus memiliki kemampuan literasi digital yang kuat. Tanpa itu, mereka akan mudah terjebak dalam disinformasi dan manipulasi. Kedua, perubahan yang cepat menuntut fleksibilitas dan kemampuan adaptasi. Kurikulum pendidikan tidak bisa lagi kaku, melainkan harus dinamis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, persaingan global menuntut generasi muda memiliki keunggulan kompetitif, tidak hanya dalam aspek kognitif, tetapi juga keterampilan abad ke-21 seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemikiran kritis.

Di tengah tantangan tersebut, peran guru, dosen, dan praktisi pendidikan menjadi sangat strategis. Mereka harus bertransformasi dari sekadar pengajar menjadi fasilitator, motivator, mentor, inovator, sekaligus teladan moral. Dengan kata lain, guru bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan mengarahkan potensi peserta didik agar siap menghadapi dunia yang terus berubah.

Strategi dan Solusi bagi Pendidikan Indonesia

Untuk menjawab tantangan Era Society 5.0, diperlukan strategi pendidikan yang holistik. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:

1. Pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) – Metode ini mendorong peserta didik untuk belajar melalui pengalaman nyata, melatih kolaborasi, pemecahan masalah, serta keterampilan berpikir kritis.

2. Integrasi literasi digital – Guru harus membekali siswa dengan keterampilan menggunakan teknologi secara bijak, kritis, dan produktif.

3. Penguatan pendidikan karakter – Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan nasionalisme tetap harus menjadi fondasi, agar teknologi tidak menggerus kemanusiaan.

4. Pemanfaatan teknologi untuk personalisasi pembelajaran – Platform digital memungkinkan guru menyesuaikan materi dengan kebutuhan dan potensi masing-masing peserta didik.

5. Kolaborasi dengan dunia industri dan komunitas – Hal ini penting agar pendidikan relevan dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus peka terhadap masalah sosial.

Namun, strategi tersebut tidak lepas dari sejumlah kendala. Masih terdapat kesenjangan literasi digital di kalangan guru maupun siswa, keterbatasan fasilitas di berbagai daerah, serta resistensi perubahan mindset yang membuat proses transformasi berjalan lambat. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi sistemik berupa:

- Pelatihan berkelanjutan bagi guru dan dosen agar mereka melek teknologi dan mampu berinovasi.

- Pemanfaatan sumber daya open-source untuk mengatasi keterbatasan biaya.

- Kolaborasi yang erat antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan dunia usaha dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung.

Pendidikan sebagai Kunci Masa Depan

Delapan puluh tahun lalu, para tokoh pendidikan berjuang melalui lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan pesantren untuk membangkitkan semangat kemerdekaan. Hari ini, perjuangan itu harus diteruskan dalam bentuk baru: mempersiapkan generasi bangsa agar tangguh menghadapi era digital yang penuh ketidakpastian. Pendidikan bukan hanya sarana untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan, tetapi juga untuk membentuk mereka agar mampu menciptakan masa depan. Perjuangan pergerakan pendidikan dari masa lalu hingga kini menunjukkan bahwa pendidikan adalah kekuatan transformasi yang mampu membebaskan, memberdayakan, dan memajukan bangsa.

Era Society 5.0 menuntut guru dan dosen tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga visioner, kreatif, dan humanis. Dengan demikian, pendidikan Indonesia dapat memadukan nilai kemanusiaan dengan teknologi, sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter.

Jika dahulu pendidikan menjadi senjata untuk melawan penjajahan, maka kini pendidikan adalah kunci untuk memenangkan peradaban. Guru, dosen, dan praktisi pendidikan adalah ujung tombak yang menentukan apakah Indonesia mampu bertahan dan bersaing di tengah arus global. Semangat para tokoh pendidikan pejuang kemerdekaan hendaknya menjadi inspirasi untuk terus berjuang melalui pendidikan, demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang bermartabat di Era Society 5.0.

Oleh : Muhammad Putra Aprullah, M.Si (Guru MAN 1 Banda Aceh)

Rekomendasi Berita