Budaya Peh Tambo di Aceh: Warisan Tradisi yang Memudar
- 02 Sep 2024 00:19 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Tambo, atau beduk, adalah alat musik tradisional yang memiliki peran penting dalam budaya Aceh. Biasanya ditempatkan di mesjid dan meunasah, tambo digunakan untuk menandakan waktu shalat dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Tambo terbuat dari sebatang kayu besar yang dilubangi dan dilapisi dengan kulit sapi yang dikencangkan. Ketika dipukul, kulit tersebut mengeluarkan bunyi nyaring yang berfungsi sebagai tanda waktu shalat atau kegiatan komunitas.
Selain untuk waktu shalat, tambo juga memiliki fungsi penting lainnya. Di masa lalu, tambo dipukul untuk mengumpulkan warga untuk rapat di meunasah atau mengumumkan berita penting, seperti kematian salah seorang anggota masyarakat.
Bunyi tambo merupakan bentuk komunikasi tradisional yang telah disepakati bersama di setiap komunitas. Setiap daerah memiliki cara dan aturan tersendiri dalam menggunakan tambo sebagai alat komunikasi.
Tambo dibuat dari berbagai jenis kayu, seperti bak teue, bak iboh, dan batang enau. Kualitas suara tambo sangat dipengaruhi oleh jenis kayu dan kulit sapi yang digunakan, dengan bak teue dikenal menghasilkan suara yang paling nyaring.
Ukuran tambo bisa sangat bervariasi, tergantung pada ukuran kayu yang digunakan. Umumnya, lebar tambo sekitar setengah meter dengan panjang yang bisa mencapai dua setengah meter.
Selain tambo kayu, ada juga jenis tambo dari tembaga dan tambo mainan. Tambo mainan, atau tambo meuneuen, biasanya digunakan untuk keperluan hiburan dan bukan untuk fungsi komunikasi resmi.
Peh tambo, atau pemukulan tambo, dilakukan dengan menggunakan dua tongkat pendek. Tongkat ini, yang dikenal sebagai go tambo, harus terbuat dari kayu yang ringan dan kuat untuk menghasilkan bunyi yang diinginkan.
Di Aceh Besar, tambo dipukul dua kali untuk menandakan rapat, sementara di Pidie, pemukulan dilakukan tiga kali untuk mengumumkan kematian. Tata cara pemukulan ini berbeda-beda di setiap daerah.
Selama bulan puasa, tambo digunakan untuk menandai waktu berbuka puasa dan sahur. Pemukulan dilakukan tiga kali; pertama untuk membangunkan, kedua untuk peringatan, dan ketiga sebagai batas akhir imsak.
Pada hari raya, tambo dipukul mulai malam hari raya setelah shalat Isya dan terus berlanjut hingga sore hari. Saat ini, tradisi memukul tambo pada malam hari raya jarang dilakukan kecuali pada acara pawai takbir.
Sekarang ini, penggunaan tambo semakin jarang dengan adanya teknologi modern. Meski begitu, tambo tetap menjadi simbol penting dari warisan budaya Aceh yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang.
(Sumber: maa.acehprov.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....