Dibalik Kematian Sang Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam

  • 25 Mei 2024 12:57 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Kematian Meurah pupok merupakan salah satu Tragedi terbesar dalam Kerajaan Aceh Darusalam, saat para penasehatnya Raja Sulthan Iskandar Muda menanyakan kepada Sulthan Kenapa sampai hati memancung putranya yang sudah dipersiapkan untuk menganti posisinya kelak sebagai Sulthan Kerajaan Aceh, maka Sultan Aceh menjawab “Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita”. namun, apa sebenarnya yang terjadi sampai putra mahkotanya itu dihukum sampai mati?

Menurut Majelis Adat Aceh, Tragedi itu terjadi berawal dari laporan tentara Pedir bahwa Meurah Pupok telah berzina dengan istrinya, iya mengaku telah membunuh perempuan tersebut, iya meminta keadilan kepada Sulthan supaya Meurah Pupok di bunuh demi keadilan. Sultan Iskandar Muda menyampaikan hal tersebut kepada Qadhil Malikul Adil sebagai Ketua Mahkamah Kesulthanan Kerajaan Aceh, Namun Putri Kamaliah (Putroe Phang) bersikeras bahwa Sulthan Iskandar Muda bisa melakukan hukuman itu sendiri.

Sebelum keputusan eksekusi pancung itu dilakukan, keputusan itu telah di cegah banyak pihak termasuk panglima Wazir Mizan. Panglima Wazir Mizan telah membujuk Sulthan Iskandar Muda untuk tidak melakukan Eksekusi tersebut, tetapi Putri Kamaliah tetap bersikerah bahwa Meurah Pupok tetap harus dihukum, Sulthan Iskandar Muda tidak percaya atas tuduhan terhadap Putranya yang taat tersebut, namun karena desakan Putri Kamaliah tersebut, maka tanpa pengadilan Meurah Pupok pun dipancung di hadapan ribuan Masyarakat Banyak

Setelah Meurah Pupok Meninggal dunia, sehari setelahnya, Sultan Iskandar Muda Mengangkat Iskandar Sani sebagai Putra Mahkota Kerajaan Aceh. Tidak lama setelah itu Sultan Iskandar Muda pun wafat karena sakit. Menurut dugaan orang kepercayaanya Sulthan Iskandar Muda diracuni. Pihak lain berpendapat bahwa Sultan Iskandar Muda Wafat karena Penyesalan karena membunuh anaknya tanpa kesalahan, membuat iya kehilangan semangat hidup, maka lemahlah pemerintahan Kerajaan Aceh saat itu.

Pengganti Sulthan Iskandar Muda saat itu adalah Iskandar tsani Yang telah diangkat sebagai Putra Mahkota Kerajaan. Namun Ratu Safiatuddin Berfirasat atas ketidakberesan keadaan saat itu, bagaimana mungkin sebuah peristiwa begitu aneh bisa terjadi dalam waktu yang saling berdekatan, orang orang yang dia cintai meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan

Ratu Safiatuddin tidak percaya abang kesayanganya berzina , maka iya bersama pengawal kepercayaannya mencari kebenaran. Akhirnya iya menemukan kebenaran itu, bahwa abangnya Meurah Pupok telah difitnah oleh sebuah Konspirasi jahat. Lelaki yang melaporkan istrinya tersebut tewas setelah beberapa hari kemudian.

Setelah Ratu Safiatuddin berhasil membongkar kebenaran tersebut, lalu iya menyampaikan kebenaran tersebut kepada Tuha Peut Kesultanan dan keseluruh Menteri Kerajaan Aceh, maka Iskandar Tsani yang merupakan anak putri Pahang (putroe Phang) dimakzulkan, karena ibunya berkomplot dengan Nuruddin Arraniry yang diduga telah melakukan penghasutan dan meracuni Sulthan Iskandar Muda.

Safiatuddin menemukan bahwa Putri Pahang dibalik Konspirasi jahat itu, karena peristiwa itulah makam putri Pahang tidak diketahui sampai saat ini. Dan Nuruddin ArRaniry melarikan diri ke negeri asalnya India, setelah kalah berdebat dengan salah satu murid Syeh Hamzah Fansuri.

Putroe Phang (Kamaliah) merupakan seorang Putri Kerajaan yang dibawa dari Pahang oleh Sultan Iskandar Muda setelah penyerangannya yang kedua membasmi kerjasama Portugis dan Raja Johor yang berkhianat

Pengkhianatan Raja Johor Alauddin Kembali berkhianat ke 2 kali dengan membantu Portugis memperluas wilayah jajahan dan membantu mengangkat raja Bujang menjadi raja Pahang. Raja Bujang sebelumnya adalah seorang Pangeran Negeri Pahang yang telah bersumpah setia kepada musuh Aceh yaitu Portugis.

Sumber : Majelis Adat Aceh

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....