Orang Tua Diminta Tak Reaktif jika Anak Jadi Korban Bullying

  • 06 Okt 2026 11:26 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Orang tua diminta tidak langsung bersikap emosional ketika anak menyampaikan dirinya menjadi korban bullying di sekolah maupun lingkungan pergaulan. Sikap yang terlalu reaktif justru berpotensi membuat anak semakin takut bercerita dan merasa persoalan yang dihadapinya tidak dipahami oleh orang terdekat.

Psikolog sekaligus Ketua Divisi Humas HIMPSI Aceh dan Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Aceh, Usfur Ridha, M.Psi., mengatakan orang tua perlu menjadi tempat yang aman bagi anak ketika mereka menghadapi perundungan. Menurutnya, respons pertama orang tua sangat menentukan keberanian anak untuk menyampaikan kondisi yang sebenarnya.

Usfur mencontohkan, orang tua sebaiknya tidak menyalahkan anak dengan mengatakan bahwa korban lemah atau mempertanyakan kesalahan yang membuat dirinya dibully. Orang tua juga tidak dianjurkan langsung mengajak anak membalas kekerasan atau mendatangi pihak sekolah dalam kondisi emosi karena persoalan dapat berkembang menjadi konflik baru. “Orang tua itu harus positif, tidak responsif, ya tidak juga agresif ketika anaknya menyampaikan kalau dia dibully,” ujar Usfur.

Menurut Usfur, langkah berikutnya adalah mencari informasi secara tenang dan membangun komunikasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui persoalan secara utuh. Sekolah dan keluarga perlu bekerja sama karena penanganan bullying tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak, terlebih ketika persoalan menyangkut hubungan sosial anak yang berlangsung setiap hari.

Ia menilai sekolah juga harus memiliki sistem pencegahan dan penanganan yang jelas, sehingga kasus tidak hanya ditangani ketika sudah menjadi perhatian banyak orang. Usfur menegaskan sekolah seharusnya tidak memandang bullying sebagai persoalan musiman, tetapi melakukan langkah preventif secara rutin melalui pendidikan empati, regulasi emosi, pendampingan, serta pengawasan terhadap lingkungan yang rawan menjadi tempat terjadinya perundungan.

Kepala Bidang E-Government Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Banda Aceh, Asna Mardhiah, S.STP, mengatakan pola komunikasi yang dekat antara orang tua dan anak juga penting untuk mengetahui aktivitas anak di ruang digital. Menurutnya, ketika orang tua memberikan perangkat dan akses media sosial, pendampingan harus dilakukan agar anak memahami risiko yang mungkin muncul dari penggunaan teknologi. “Orang tua tidak boleh otomatis abai atau cuek sama anak, tapi dia harus melakukan bonding,” kata Asna.

Asna menjelaskan bonding dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana, termasuk makan bersama, bepergian, atau berbincang santai sehingga anak tidak merasa sedang diinterogasi. Kedekatan tersebut dapat membuat anak lebih mudah menceritakan pengalaman yang dialami, termasuk ketika mendapatkan penghinaan, ancaman, pengucilan, atau perlakuan tidak menyenangkan di media sosial.

Usfur dan Asna sepakat bahwa anak membutuhkan orang dewasa yang mampu mendengarkan sekaligus memberikan perlindungan tanpa memperburuk keadaan. Dengan komunikasi yang terbuka, respons yang tidak menghakimi, serta kolaborasi antara orang tua dan sekolah, anak diharapkan lebih berani melaporkan bullying dan mendapatkan penanganan sebelum dampaknya berkembang menjadi persoalan psikologis yang lebih serius.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....