Sekolah Diminta Proaktif Cegah Bullying, Bukan Menunggu Kasus Terjadi
- 06 Okt 2026 11:25 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Sekolah dinilai perlu membangun sistem pencegahan bullying yang berjalan secara konsisten, bukan hanya bergerak setelah terjadi kasus perundungan terhadap peserta didik. Psikolog sekaligus Ketua Divisi Humas HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) Aceh dan Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Aceh, Usfur Ridha, M.Psi., mengatakan lingkungan sekolah memiliki peran penting karena anak datang dari latar belakang keluarga, pola asuh, dan kondisi sosial yang berbeda.
Menurut Usfur, sekolah perlu memiliki prosedur yang jelas mengenai pencegahan dan penanganan bullying agar setiap kasus dapat ditangani secara tepat. “Sekolah itu harus proaktif, harus punya SOP bagaimana pencegahan dan penanganan ketika kasus bullying,” ujar Usfur dalam program Idola Indonesia Layak Anak, Minggu, 4 Oktober 2026.
Ia menilai penanganan terhadap pelaku tidak cukup hanya dengan mengeluarkan anak dari sekolah karena tindakan tersebut berpotensi memunculkan persoalan baru. Anak yang dikeluarkan tetap membutuhkan pendampingan agar memahami kesalahan, mampu mengelola emosi, membangun empati, dan memperbaiki perilakunya sehingga tidak mengulangi tindakan serupa di lingkungan lain. “Saya tidak sependapat ketika anak yang terbukti melakukan bullying langsung dikeluarkan dari sekolah,” katanya.
Usfur juga mendorong sekolah mengoptimalkan peran guru, khususnya guru Bimbingan dan Konseling, serta memperkuat kegiatan preventif yang mengajarkan karakter empati dan regulasi emosi. Menurutnya, program pendampingan antarsiswa seperti kakak dan adik asuh dapat dikembangkan dengan pengawasan yang baik, sehingga hubungan antargenerasi di sekolah diarahkan untuk saling mendukung, bukan membentuk kelompok yang justru melakukan perundungan. Pengawasan terhadap titik-titik yang minim pemantauan, seperti toilet dan lorong sekolah, juga perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya tindakan yang tidak terlihat oleh guru.
Kepala Bidang E-Government Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Banda Aceh, Asna Mardhiah, S.STP, mengatakan upaya menciptakan lingkungan aman juga harus diperluas ke ruang digital yang digunakan anak sehari-hari. Menurutnya, orang tua yang memberikan perangkat dan akses media sosial perlu ikut mendampingi karena anak berhadapan dengan berbagai konten, interaksi, serta risiko yang tidak selalu terlihat secara langsung. “Orang tua tidak boleh otomatis abai atau cuek sama anak, tetapi harus melakukan bonding,” ujar Asna.
Asna menjelaskan kedekatan orang tua dengan anak dapat dibangun melalui aktivitas sederhana yang membuat komunikasi berlangsung secara alami. Orang tua dapat menanyakan apa yang diakses anak, mengenali teman-temannya, serta memperhatikan perubahan perilaku, termasuk ketika anak tiba-tiba menyembunyikan perangkat atau menjadi lebih tertutup. Literasi digital juga perlu ditingkatkan agar orang tua tidak hanya memberikan akses teknologi, tetapi memahami cara mendampingi anak sesuai usia dan perkembangan psikologisnya.
Kedua narasumber menilai pencegahan bullying membutuhkan kolaborasi antara sekolah, orang tua, anak, pemerintah, dan lingkungan masyarakat. Usfur menekankan pentingnya tindakan preventif yang berkelanjutan di sekolah, sedangkan Asna mendorong penguatan literasi digital serta kegiatan positif bagi anak agar mereka memiliki ruang aman untuk belajar, bekerja sama, dan mengembangkan potensi. Dengan langkah yang dilakukan secara bersama dan konsisten, lingkungan sekolah maupun ruang digital diharapkan mampu menjadi tempat yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....