Bullying Anak Bukan Candaan, Dampaknya Bisa Mengganggu Perkembangan
- 06 Okt 2026 09:44 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Bullying pada anak bukan sekadar candaan atau konflik biasa antarteman, tetapi dapat menjadi bentuk kekerasan yang berdampak terhadap kondisi psikologis dan kehidupan sosial anak dalam jangka panjang. Hal tersebut disampaikan Psikolog sekaligus Ketua Divisi Humas HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) Aceh dan Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Aceh, Usfur Ridha, M.Psi., dalam program Idola Indonesia Layak Anak, Minggu, 4 Oktober 2026.
Usfur menjelaskan bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang, serta biasanya melibatkan ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Bentuknya tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa penghinaan secara verbal, pengucilan dalam kelompok, penyebaran gosip, hingga tindakan di ruang digital atau cyberbullying.
“Bullying itu merupakan bentuk kekerasan, dilakukan dengan sengaja, agresif, berulang, dan ada ketimpangan power,” ujar Usfur.
Menurutnya, munculnya perilaku bullying dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keluarga, pola asuh, lingkungan sekolah, karakter individu, hingga penggunaan media sosial dan permainan digital. Anak yang tumbuh dengan pola asuh terlalu keras maupun terlalu bebas dapat memiliki persoalan dalam mengelola emosi, sementara anak yang pernah menjadi korban juga berpotensi melakukan hal serupa ketika menemukan lingkungan yang membuatnya merasa lebih berkuasa. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika sekolah hanya memberikan respons setelah kasus terjadi, bukan melakukan pencegahan secara konsisten.
Usfur mengatakan dampak bullying dapat terlihat dari perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih cemas, takut, sering menangis, menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan tidur dan pola makan, hingga kehilangan kepercayaan diri. Dalam kondisi yang lebih berat, anak dapat mengalami stres, trauma, depresi, kesulitan membangun hubungan interpersonal, bahkan muncul keinginan menyakiti diri sendiri.
“Anak yang mengalami bullying bisa berkembang menjadi stres dan trauma, kemudian sulit membangun hubungan dengan teman lain karena trauma tadi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang E-Government Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Banda Aceh, Asna Mardhiah, S.STP, mengingatkan bahwa bullying di ruang digital memiliki risiko yang lebih panjang karena meninggalkan jejak yang sulit dihilangkan. Bentuknya antara lain penghinaan, menyebarkan foto tanpa izin dengan tujuan mempermalukan, serta mengeluarkan seseorang dari grup percakapan secara sengaja untuk mengucilkan.
“Ruang digital itu sangat luas, ketika kita sudah mempublikasikan satu momentum, foto, atau kalimat, biasanya tidak bisa dihapus dan selalu meninggalkan jejak,” kata Asna.
Asna menilai pengawasan orang tua perlu dilakukan sejak anak diberikan perangkat dan akses media sosial, bukan dengan cara memata-matai, melainkan melalui komunikasi dan pendampingan yang sehat. Orang tua disarankan mengetahui apa yang diakses anak, mengenali teman di dunia maya maupun dunia nyata, serta memperhatikan perubahan perilaku seperti anak tiba-tiba menyembunyikan perangkat atau enggan bercerita.
“Orang tua tidak boleh otomatis abai atau cuek, tetapi harus melakukan bonding dan membangun komunikasi dengan anak,” ujarnya.
Pencegahan bullying, menurut kedua narasumber, membutuhkan keterlibatan anak, keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar secara bersama-sama agar ruang tumbuh anak benar-benar aman. Usfur menekankan pentingnya sekolah memiliki langkah pencegahan dan penanganan yang jelas, sementara Asna mendorong penguatan literasi digital bagi anak, orang tua, dan guru sehingga setiap pihak mampu mengenali, mencegah, serta menghentikan perilaku bullying sejak dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....