Guru Madrasah Diminta Siap Hadapi Pendidikan Inklusi

  • 13 Sep 2026 13:07 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Dr. Dahrina menyatakan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya soal menerima anak dengan disabilitas di sekolah umum, tetapi juga tentang bagaimana sistem pembelajaran mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik. Dalam konteks madrasah, kesiapan tenaga pendidik menjadi faktor utama penentu keberhasilan.

"Guru adalah ujung tombak pendidikan inklusi. Sebagus apapun kebijakan dan sarana, kalau gurunya belum siap, maka inklusi tidak akan berjalan," ujarnya.

Hal itu dikatakan Dr. Dahrina M, S.Ag., M.A selaku Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Banda Aceh dalam dialog program Ruang Disabilitas dan Inklusi pada Minggu, 30 Agustus 2026 tema "Guru Sebagai Kunci Inklusi: Kesiapan Dan Tantangan Tenaga Pendidik Di Madrasah", program ini menyoroti peran strategis guru dalam mewujudkan pendidikan yang ramah bagi semua anak.

Menurut Dr. Dahrina, tantangan terbesar yang dihadapi guru di madrasah saat ini adalah keterbatasan pemahaman dan pelatihan khusus tentang pendidikan inklusi. Banyak guru masih menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus harus ditangani oleh guru pembimbing khusus atau sekolah luar biasa. Padahal di madrasah umum, guru kelas juga dituntut memiliki kompetensi dasar untuk melayani semua siswa.

"Tantangannya ada di tiga hal. Pertama, pemahaman guru tentang jenis-jenis disabilitas dan cara penanganannya. Kedua, metode pembelajaran yang harus fleksibel dan diferensiasi. Ketiga, kesiapan mental dan kolaborasi dengan orang tua serta tenaga ahli," jelasnya.

Ia menambahkan, MIN 4 Banda Aceh saat ini sudah mulai menerapkan praktik inklusif secara bertahap. Pihak madrasah melakukan pemetaan siswa, memberikan pelatihan internal kepada guru, serta membangun komunikasi aktif dengan orang tua. Namun ia mengakui bahwa dukungan sistemik masih sangat dibutuhkan, mulai dari kurikulum yang adaptif, tenaga pendidik khusus, hingga sarana prasarana yang ramah disabilitas.

Dr. Dahrina juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir. Pendidikan inklusi, katanya, bukan beban tambahan bagi guru, melainkan peluang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih manusiawi.

"Kalau kita bisa melayani anak dengan kebutuhan berbeda, artinya kita juga sedang mengasah empati, kesabaran, dan kreativitas guru. Anak reguler pun akan belajar menghargai perbedaan sejak dini. Ini investasi jangka panjang untuk masyarakat Aceh yang inklusif," katanya.

Rifki juga menyinggung soal peran pemerintah dan lembaga terkait. Dr. Dahrina berharap ada pelatihan berkelanjutan, pendampingan, serta penyediaan modul ajar khusus bagi guru madrasah. Ia menilai sinergi antara Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, dan media seperti RRI sangat penting untuk mengkampanyekan pendidikan inklusi ke masyarakat luas.

"Media punya peran besar untuk mengubah stigma. Dengan adanya Ruang Disabilitas dan Inklusi ini, masyarakat jadi tahu bahwa madrasah juga siap menjadi rumah belajar bagi semua anak tanpa diskriminasi," ungkapnya.

Dr. Dahrina mengajak seluruh tenaga pendidik di Aceh untuk tidak takut memulai. "Mulai dari hal kecil. Sapa anak dengan ramah, gunakan bahasa yang positif, dan buka ruang dialog dengan orang tua. Inklusi itu dimulai dari hati guru," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....