Infrastruktur Gambut Aceh Terancam Rusak, Perawatan dan Kesadaran Masyarakat Jad
- 08 Sep 2026 08:58 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Ekosistem gambut Aceh menghadapi ancaman kerusakan yang tidak hanya berasal dari kebakaran dan banjir, tetapi juga kondisi infrastruktur restorasi yang mulai rusak dan tidak terawat. Persoalan tersebut mengemuka dalam dialog Green Radio RRI Banda Aceh bertajuk “Gambut Aceh dalam Ancaman: Infrastruktur Terbengkalai, Bencana Berulang”, Sabtu, 5 September 2026.
Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Dr. Monalisa, SP, M.Si., mengatakan Aceh memiliki kawasan gambut sekitar 336 ribu hingga 338 ribu hektare yang tersebar di wilayah pantai barat dan selatan Aceh. Kawasan tersebut meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam dan Singkil serta terbagi dalam 36 kawasan hidrologis gambut.
Menurut Monalisa, kondisi gambut Aceh masih dapat diselamatkan melalui berbagai upaya mitigasi meski sebagian kawasan telah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. “Ada level kerusakannya, yang pertama ada tiga level, yaitu yang pertama level yang ringan, kemudian sedang, dan berat,” ujarnya saat menjelaskan kondisi biofisik gambut Aceh.
Ia menjelaskan, keberadaan sekat kanal dan sumur bor menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi hidrologis gambut, namun jumlahnya di Aceh masih terbatas dan sebagian infrastrukturnya mengalami kerusakan. Monalisa menyebut sumur bor yang pernah dibangun di sejumlah kawasan juga tidak banyak, sementara sebagian lainnya masih dalam kondisi baik dan sebagian sudah mengalami kerusakan.
| Baca juga: Sembilan Titik Panas Muncul di Leuser |
Monalisa menilai persoalan pemeliharaan tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan anggaran, tetapi juga keberlanjutan pendampingan kepada masyarakat setelah proyek pembangunan selesai. “Nah, di level kesadaran itu kan butuh waktu, jadi tidak sekadar kita sosialisasi, menginformasikan, tapi juga bagaimana masyarakat bisa menjaga, merawat apa yang sudah kita bangun,” katanya.
Menurutnya, masyarakat di sekitar gambut perlu memahami fungsi sekat kanal agar tidak melakukan pembongkaran ketika tidak mengetahui manfaatnya. Ia mencontohkan, material yang lapuk maupun bagian yang mengalami penurunan perlu segera diperbaiki sehingga fungsi infrastruktur tetap berjalan dalam menjaga kelembapan lahan gambut.
Monalisa berharap perhatian terhadap gambut tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi dilanjutkan dengan pengawasan, pemeliharaan dan peningkatan kapasitas masyarakat di tingkat kampung. “Pendanaan untuk pencegahan mitigasi itu harus khusus dialokasikan di kampung-kampung lahan gambut,” ujarnya, seraya meminta pemerintah Aceh memberi perhatian lebih terhadap perlindungan gambut sebagai bagian dari upaya mencegah bencana berulang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....