BBPOM Aceh Perkuat Peran Tenaga Kefarmasian Cegah Resistansi Antimikroba

  • 31 Agt 2026 22:00 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Pidie Jaya- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh memperkuat pemahaman tenaga kefarmasian di Kabupaten Pidie Jaya mengenai pengelolaan obat sekaligus penggunaan antimikroba secara tepat untuk mencegah resistansi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).

Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Bimbingan Teknis Perizinan dan Pengelolaan Obat di Apotek dan Toko Obat serta Sosialisasi Bahaya Antimicrobial Resistance (AMR) yang diselenggarakan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya, Senin, 31 Agustus 2026.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BBPOM Aceh, Bustami, mengatakan tenaga kefarmasian memiliki peran penting dalam mendorong penggunaan antibiotika secara tepat sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Tenaga kefarmasian memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengendalian resistansi antimikroba dan mengedukasi pasien mengenai penggunaan antibiotika secara tepat dan sesuai petunjuk tenaga kesehatan,” katanya.

Menurut Bustami, resistansi antimikroba membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memastikan penyerahan dan penggunaan obat, khususnya antibiotika, sesuai dengan ketentuan.

Ia menjelaskan pengelolaan obat tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan obat di apotek maupun toko obat. Cara penyimpanan, penyerahan, serta penggunaan obat juga menjadi bagian penting untuk menjaga mutu dan keamanan obat serta mendukung keberhasilan pengobatan.

Karena itu, peningkatan literasi dan kepatuhan terhadap ketentuan kefarmasian diperlukan agar tenaga kefarmasian dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat mengenai penggunaan antimikroba secara bijak.

Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Pidie Jaya, Eddy Azwar, mengatakan pengelolaan obat harus dilakukan sesuai standar pada setiap tahapan untuk memastikan obat yang diterima masyarakat memenuhi persyaratan mutu, khasiat, dan keamanan.

“Kita harus memastikan obat yang sampai kepada masyarakat tetap terjamin mutu, khasiat, dan keamanannya. Karena itu, tenaga kefarmasian memiliki peran penting dalam memastikan seluruh proses pengelolaan obat berjalan dengan baik,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti 35 peserta, terdiri atas apoteker penanggung jawab apotek dan tenaga teknis kefarmasian yang menjadi penanggung jawab toko obat di Kabupaten Pidie Jaya.

BBPOM Aceh menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan kompetensi dan kepatuhan tenaga kefarmasian, termasuk dalam penerapan pengelolaan obat sesuai ketentuan.

Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pelayanan kefarmasian sehingga penggunaan obat di masyarakat berlangsung secara tepat dan sesuai ketentuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....