BMKG Deteksi Tiga Titik Panas di Aceh, Jumlahnya Mulai Berkurang

  • 26 Agt 2026 13:06 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Jumlah titik panas di Provinsi Aceh mengalami penurunan sangat signifikan. Setelah sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 114 titik panas pada 23 Agustus 2026, pemantauan terbaru pada 25 Agustus 2026 menunjukkan hanya tersisa tiga titik panas di wilayah Aceh.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Muhammad Niza Andria, dalam laporan yang diterima RRI menyebutkan, pemantauan titik panas dilakukan menggunakan Sensor MODIS dari satelit Terra, Aqua dan Suomi NPP, serta NOAA20/VIIRS.

Berdasarkan pemantauan terbaru pada 25 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB, BMKG mendeteksi tiga titik panas di Aceh. Ketiganya memiliki tingkat kepercayaan sedang, masing-masing satu titik berada di Kota Lhokseumawe dan dua titik lainnya berada di Kabupaten Nagan Raya.

"Satu titik panas terdeteksi di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, pada koordinat 97,0736 Bujur Timur dan 5,2244 Lintang Utara. Titik tersebut memiliki tingkat kepercayaan sedang dan terdeteksi melalui satelit NOAA20," katanya Rabu 26 Agustus 2026.

Sementara dua titik panas lainnya berada di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Titik pertama berada pada koordinat 96,4943 Bujur Timur dan 3,8088 Lintang Utara, sedangkan titik kedua berada pada koordinat 96,4920 Bujur Timur dan 3,8104 Lintang Utara. Keduanya memiliki tingkat kepercayaan sedang dan terdeteksi oleh satelit Suomi NPP.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan yang sangat tajam dibandingkan pemantauan sebelumnya yang mencapai 114 titik panas. Dengan demikian, terjadi pengurangan sebanyak 111 titik panas, atau sekitar 97,4 persen.

Pada saat terdeteksi 114 titik panas, seluruh data tercatat berada di Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat, pada koordinat yang sama, yakni sekitar 95,9563 Bujur Timur dan 4,3744 Lintang Utara. Titik tersebut terdeteksi berulang oleh sejumlah satelit, di antaranya Aqua, Suomi NPP dan NOAA20.

Perbedaan jumlah deteksi tersebut perlu dipahami dalam konteks pemantauan satelit. Satu lokasi dapat terdeteksi oleh lebih dari satu sensor atau satelit sehingga jumlah hasil deteksi tidak selalu identik dengan jumlah lokasi kebakaran yang berbeda. Karena itu, keberadaan titik panas tetap memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Dengan pemantauan terbaru tersebut, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Nagan Raya menjadi wilayah yang masih terpantau memiliki titik panas di Aceh. BMKG mencatat seluruh tiga titik tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang.

BMKG juga mengingatkan bahwa titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak secara otomatis berarti telah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Namun, keberadaan titik panas perlu menjadi perhatian dan ditindaklanjuti dengan pengecekan di lapangan, terutama apabila ditemukan asap atau indikasi kebakaran.

Penurunan dari 114 menjadi tiga titik panas menunjukkan kondisi yang jauh lebih rendah dalam pemantauan terbaru. Meski demikian, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan tetap diperlukan, khususnya di wilayah yang masih terdeteksi titik panas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....