Mengenal Virus EEHV yang Bikin Gajah Yuna Mati Mendadak

  • 14 Agt 2026 15:44 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Gajah anakan bernama Yuna, yang merupakan bagian dari binaan Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, mati secara mendadak pada Selasa 11 Agustus 2026 malam. Gajah betina berusia kurang dari tiga tahun itu diduga terserang Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).

Kondisi Yuna dilaporkan masih normal hingga Selasa siang. Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, pawang atau mahout menemukan perubahan kondisi yang cukup drastis. Yuna terlihat lemas dengan mata merah dan bengkak, wajah mengalami pembengkakan, serta bagian lidah tampak pucat hingga kebiruan.

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan kondisi kesehatan Yuna sebelumnya berada dalam pengawasan rutin. Pemeriksaan terakhir pada Juni 2026 bahkan menunjukkan kondisi fisiknya masih tergolong sehat, dengan Body Condition Index Score (BCIS) 5,5. Angka tersebut berada dalam kisaran ideal gajah jinak, yakni 5 hingga 7.

Drop-nya sangat cepat. Berdasarkan diagnosa awal, ini dipicu oleh serangan virus yang mematikan bagi anak gajah,” kata Ujang saat dikonfirmasi RRI, Kamis 13 Agustus 2026.

Ia mengungkapkan hasil pengamatan awal menunjukkan adanya sejumlah tanda yang mengarah pada infeksi EEHV. Selain pembengkakan pada wajah dan mata serta perubahan warna mukosa lidah, pemeriksaan terhadap organ dalam juga menemukan indikasi pendarahan pada saluran pencernaan.

Ujang menjelaskan EEHV merupakan virus yang secara khusus menyerang gajah dan memiliki risiko tinggi terhadap gajah usia muda. Virus tersebut dapat merusak lapisan pembuluh darah sehingga menyebabkan pendarahan dan gangguan pada organ tubuh. Kondisinya dapat berkembang sangat cepat dan berujung pada kematian dalam waktu singkat.

Penularan virus dapat berlangsung melalui sejumlah cairan tubuh gajah, termasuk sekresi belalai, air liur, dan feses. Kasus infeksi serupa sebelumnya pernah terjadi pada gajah anakan bernama Intan di Conservation Response Unit (CRU) Trumon, Aceh Selatan, pada 2021.

Lalu Apa sebenarnya virus EEHV?

EEHV merupakan singkatan dari Elephant Endotheliotropic Herpesvirus. Istilah “endotheliotropic” merujuk pada kecenderungan virus menyerang sel endotel, yaitu lapisan yang melapisi bagian dalam pembuluh darah.

Ketika infeksi berkembang menjadi EEHV-HD, kerusakan pada pembuluh darah dapat menyebabkan gangguan sirkulasi, kebocoran cairan, edema, perdarahan mikro, hingga syok akibat gangguan sistem pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian dalam waktu sangat singkat.

Mengapa EEHV sangat berbahaya bagi anak gajah?

EEHV paling sering menyebabkan penyakit klinis pada gajah Asia berusia sekitar 1–8 tahun, meskipun kasus pada gajah yang lebih tua juga pernah terjadi. Pada gajah Afrika, penyakit ini juga dapat muncul, tetapi lebih jarang.

Yang membuat penyakit ini sangat berbahaya adalah perjalanan penyakitnya yang amat cepat. Anak gajah dapat terlihat relatif normal pada awalnya, kemudian kondisinya memburuk dalam hitungan jam. Beberapa kasus bahkan dilaporkan berujung kematian sekitar 10 jam setelah tanda klinis pertama terlihat.

Karena itu, keterlambatan beberapa jam dalam mengenali gejala dapat sangat menentukan peluang hidup anak gajah.

Apakah semua gajah yang membawa EEHV akan sakit?

Tidak.

Ini merupakan bagian penting yang sering disalahpahami. EEHV dapat berada dalam tubuh gajah dalam kondisi laten, sebagaimana karakteristik virus herpes lainnya. Banyak gajah dapat menjadi pembawa virus tanpa menunjukkan penyakit berat.

Virus tersebut kemudian dapat mengalami reaktivasi (recrudescence), sehingga kembali aktif dan dapat terdeteksi dalam darah atau keluar melalui sekresi belalai.

Anak gajah juga memperoleh antibodi EEHV dari induknya. Namun, antibodi maternal tersebut mulai menurun sekitar usia 18 bulan dan pada sebagian anak dapat menjadi tidak terdeteksi sekitar usia 36 bulan. Masa ketika perlindungan antibodi menurun menjadi salah satu periode yang perlu mendapat perhatian khusus.

Bagaimana EEHV menular?

Penularan EEHV belum sepenuhnya dipahami. Bukti yang ada menunjukkan virus dapat keluar melalui sekresi mukosa, termasuk sekresi dari belalai. Gajah yang sehat juga diketahui dapat secara berkala mengeluarkan virus dalam jumlah rendah melalui sekresi belalai tanpa mengalami penyakit.

Karena itu, interaksi antargajah kemungkinan berperan dalam penyebaran virus.

Namun, perlu diluruskan bahwa EEHV bukan penyakit yang menular kepada manusia. EEHV merupakan virus yang secara khusus menginfeksi gajah.

Apa saja gejala EEHV?

Gejala awal sering kali tidak khas. Inilah yang membuat EEHV sulit dikenali pada tahap awal. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Nafsu makan dan minum menurun.
  • Anak gajah menjadi lebih lesu atau kurang aktif.
  • Perubahan pola tidur.
  • Tidak responsif seperti biasanya ketika mengikuti pelatihan.
  • Lebih enggan berpisah dari kelompok atau induknya.
  • Lemas atau mengalami kekakuan.
  • Gangguan berjalan atau pincang.
  • Pembengkakan pada kepala dan anggota tubuh.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Luka atau perubahan pada rongga mulut.
  • Lidah dapat berubah warna menjadi kebiruan (cyanosis).
  • Denyut jantung dan frekuensi pernapasan meningkat.
  • Dapat terjadi anemia dan penurunan jumlah trombosit.

Mengapa anak gajah bisa meninggal begitu cepat?

Secara sederhana, masalah utamanya bukan hanya perdarahan, tetapi juga gangguan serius pada sistem pembuluh darah dan sirkulasi.

Kerusakan endotel menyebabkan pembuluh darah kehilangan kemampuan mempertahankan cairan di dalam sirkulasi. Cairan dapat keluar ke jaringan sehingga terjadi edema, sementara volume efektif darah yang beredar menurun.

Akibatnya, organ-organ vital dapat kekurangan perfusi. Kondisi ini dapat berkembang menjadi syok vaskular, gangguan pembekuan darah, dan kegagalan organ.

Itulah sebabnya anak gajah yang sebelumnya masih terlihat makan atau beraktivitas dapat mengalami penurunan kondisi secara drastis.

Bagaimana EEHV didiagnosis?

Salah satu metode utama untuk mendeteksi penyakit ini adalah pemeriksaan PCR terhadap DNA EEHV dalam sampel darah utuh.

Namun, hasil PCR harus ditafsirkan bersama kondisi klinis. Sebab, keberadaan DNA EEHV dalam darah dalam jumlah rendah tidak selalu berarti gajah sedang mengalami EEHV-HD. Gajah yang tampak sehat juga dapat mengalami viremia tingkat rendah secara sementara.

Karena itu, pemeriksaan laboratorium biasanya dikombinasikan dengan:

  • pengamatan perilaku;
  • pemeriksaan fisik;
  • pemeriksaan darah;
  • pemantauan jumlah trombosit;
  • pemeriksaan parameter pembekuan darah; dan
  • pemantauan perubahan kondisi dari waktu ke waktu.

Pemantauan rutin menjadi sangat penting karena penelitian menunjukkan DNA EEHV dapat terdeteksi dalam darah beberapa hari sebelum tanda klinis berat muncul pada sebagian kasus.

Apakah EEHV bisa disembuhkan?

Sampai saat ini, belum ada obat yang terbukti secara definitif dapat menyembuhkan EEHV-HD. Penanganan terutama berfokus pada deteksi sedini mungkin, terapi antivirus, dan perawatan suportif intensif.

Obat antivirus seperti famciclovir, acyclovir, dan ganciclovir telah digunakan dalam penanganan kasus. Namun, efektivitas spesifik obat-obatan tersebut terhadap EEHV masih belum sepenuhnya terbukti.

Perawatan suportif dapat mencakup pemberian cairan untuk mempertahankan sirkulasi, terapi oksigen, penanganan nyeri, antibiotik untuk infeksi sekunder, serta transfusi plasma pada kasus tertentu.

Karena kondisi dapat memburuk sangat cepat, pedoman penanganan EEHV menekankan bahwa waktu merupakan faktor yang sangat penting.

Bagaimana cara mencegah kematian akibat EEHV?

Karena virus dapat berada dalam kondisi laten dan vaksin yang efektif secara luas belum tersedia, salah satu strategi terpenting saat ini adalah deteksi dini.

Pengelola gajah, khususnya yang memiliki anak gajah, dianjurkan untuk:

  1. Memantau perubahan perilaku setiap hari.
  2. Melakukan pemeriksaan darah secara berkala.
  3. Melakukan pemeriksaan PCR sesuai protokol dokter hewan.
  4. Segera mengambil sampel ketika muncul tanda-tanda mencurigakan.
  5. Menyiapkan obat antivirus dan fasilitas perawatan darurat.
  6. Melatih anak gajah sejak dini agar terbiasa menjalani pemeriksaan dan pemberian obat.
  7. Memiliki protokol khusus penanganan EEHV sebelum kasus terjadi.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....