PII Banda Aceh: AI Boleh Digunakan tetapi Jangan Sampai Mematikan Daya Pikir

  • 15 Agt 2026 09:43 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin memudahkan pelajar dalam mencari informasi, menyusun tugas, hingga mengembangkan ide. Namun, kemudahan tersebut dinilai harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar teknologi tidak justru melemahkan kualitas pembelajaran generasi muda.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PD Pelajar Islam Indonesia (PII) Banda Aceh, Maulidil Fikri, bersama Ketua Kaderisasi PD PII Banda Aceh, Akbar, dalam dialog interaktif Pro 2 RRI Banda Aceh. Keduanya menegaskan AI bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan dimanfaatkan secara tepat sesuai kebutuhan pendidikan.

Maulidil mengatakan AI memiliki banyak sisi positif apabila digunakan sebagai alat bantu belajar. Menurutnya, pelajar dapat memanfaatkan AI untuk mencari referensi, memperluas wawasan, maupun mengembangkan ide yang telah dimiliki sebelumnya sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.

"AI ini bukan hanya ada dampak negatifnya, tapi juga ada dampak positif. Pelajar bisa mencari riset dari AI atau mengembangkan ide-ide yang didapatkan," ujar Maulidil saat diwawancarai RRI pada Rabu 5 Agustus 2026. Ia menegaskan manfaat tersebut hanya akan dirasakan apabila pengguna tetap mengutamakan kemampuan berpikir dan tidak sepenuhnya menyerahkan proses belajar kepada teknologi.

Menurutnya, penggunaan AI tanpa proses berpikir dapat mengurangi makna pendidikan itu sendiri. Sebab, esensi pendidikan bukan hanya memperoleh jawaban, tetapi membangun kemampuan menganalisis, memahami persoalan, dan menemukan solusi secara mandiri.

"Kalau menurut Fikri, memang itu termasuk ketidakjujuran akademik karena akademik ialah proses berpikir seseorang," katanya. Ia menyarankan agar pelajar terlebih dahulu menyusun jawaban berdasarkan pemahaman sendiri, kemudian menggunakan AI hanya untuk membantu merapikan bahasa atau mengembangkan isi tulisan.

Sementara itu, Akbar mengingatkan bahwa pelajar juga perlu membiasakan diri memeriksa kembali hasil yang diberikan AI. Menurutnya, informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar sehingga harus dibandingkan dengan referensi lain sebelum dijadikan dasar dalam mengerjakan tugas.

Ia mengaku selama menggunakan AI masih menemukan sejumlah jawaban yang kurang tepat. Karena itu, pelajar sebaiknya tidak langsung menyalin seluruh hasil yang diberikan AI, melainkan membaca, memahami, dan memverifikasi kembali informasi tersebut melalui sumber yang dapat dipercaya.

Dalam dialog tersebut, narasumber juga menyoroti maraknya konten digital hasil AI yang sulit dibedakan dengan karya asli. Mereka menilai kemampuan literasi digital menjadi bekal penting agar generasi muda mampu mengenali informasi yang valid dan tidak mudah terpengaruh oleh manipulasi gambar, video, maupun suara berbasis AI.

Selain itu, penggunaan AI dinilai tidak akan mampu menggantikan seluruh peran manusia. Menurut Maulidil, karakter, empati, nilai-nilai moral, serta kemampuan mengambil keputusan tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi secanggih apa pun.

Menutup dialog, kedua narasumber mengajak pelajar memanfaatkan AI secara proporsional sesuai kebutuhan. Mereka berharap generasi muda mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan budaya berpikir, membaca, berdiskusi, serta membangun karakter sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....