Pelajar Harus Bijak Memanfaatkan Teknologi

  • 15 Agt 2026 09:44 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan. Meski menawarkan berbagai kemudahan, AI disebut tidak akan mampu menggantikan karakter, empati, dan kemampuan berpikir yang dimiliki manusia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PD Pelajar Islam Indonesia (PII) Banda Aceh, Maulidil Fikri, bersama Ketua Kaderisasi PD PII Banda Aceh, Akbar, dalam dialog interaktif Pro 2 RRI Banda Aceh pada Rabu 5 Agustus 2026. Menurut keduanya, perkembangan teknologi seharusnya menjadi peluang bagi pelajar untuk meningkatkan kualitas diri, bukan alasan untuk mengurangi semangat belajar.

Maulidil mengatakan terdapat beberapa pekerjaan yang dapat dibantu oleh AI, seperti menerjemahkan bahasa, mencari referensi, hingga menyusun ide tulisan. Namun, ia menegaskan masih banyak aspek kehidupan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi karena berkaitan dengan nilai kemanusiaan.

"Ada beberapa hal yang memang tergantikan oleh AI, tapi ada hal yang tidak bisa digantikan oleh AI. Seperti pembentukan karakter dan perasaan seseorang itu memang tidak bisa digantikan oleh AI," kata Maulidil. Ia menilai manusia tetap memiliki keunggulan dalam membangun empati, kebijaksanaan, dan tanggung jawab yang tidak dimiliki mesin.

Senada dengan itu, Akbar mengingatkan pelajar agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber dalam menyelesaikan tugas. Menurutnya, kebiasaan bergantung sepenuhnya pada AI justru dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir kritis dan tidak terbiasa mencari solusi secara mandiri.

"Kalau bisa kita berpikir dulu, berpikir kritis dulu, kita cari jawaban dulu atau kita tanya sama kawan. Kalau belum dapat solusi, baru kita menggunakan AI," ujar Akbar. Ia berharap AI dimanfaatkan sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti usaha pelajar dalam memahami materi pembelajaran.

Dalam dialog tersebut, narasumber juga membahas tantangan semakin maraknya foto, video, hingga suara hasil rekayasa AI yang beredar di media digital. Menurut Maulidil, generasi muda harus meningkatkan kemampuan literasi digital agar mampu membedakan informasi yang autentik dengan konten hasil manipulasi teknologi.

Selain itu, keduanya menilai budaya membaca tetap harus dipertahankan di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui AI. Mereka menyebut membaca buku, berdiskusi, dan mencari referensi dari berbagai sumber akan membantu pelajar membangun wawasan yang lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan jawaban instan dari teknologi.

Maulidil juga mengingatkan bahwa penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak dan karakter. Menurutnya, kemampuan digital memang penting, tetapi akan lebih bermakna apabila didukung oleh kecerdasan berpikir dan nilai-nilai moral yang kuat.

Menutup dialog, kedua narasumber mengajak pelajar dan mahasiswa di Aceh untuk tidak takut memanfaatkan AI, tetapi juga tidak bersikap manja terhadap teknologi tersebut. Mereka berharap generasi muda mampu menjadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas belajar, sementara kreativitas, kejujuran, karakter, dan daya pikir tetap menjadi fondasi utama dalam menghadapi perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....