Dari Aceh untuk Dunia, Mahasiswa Tawarkan Solusi Kesehatan bagi Pengungsi

  • 01 Jul 2026 20:05 WIB
  •  Banda Aceh
Poin Utama
  • Mahasiswa dari berbagai negara menyusun solusi berbasis bukti melalui kompetisi Policy Brief, Essay, Scientific Poster, dan Educational Video.
  • Forum mengintegrasikan enam Standing Committee IFMSA untuk menghasilkan pendekatan multidisipliner terhadap isu pengungsi.
  • GALAXY 3.0 x WORLD 2026 mendorong lahirnya kolaborasi internasional dan inovasi mahasiswa dalam menjawab tantangan kemanusiaan.

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Ketika krisis kemanusiaan dan pengungsian terus menjadi persoalan global, mahasiswa tidak lagi hanya hadir sebagai peserta diskusi. Mereka mulai mengambil peran sebagai penggagas solusi.

Semangat itulah yang mewarnai penyelenggaraan Global Student Awards for Health of Syiah Kuala University (GALAXY) 3.0 x Weaving Outlooks for Refugee League and Dialogue (WORLD) 2026 yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) bersama Center for Indonesian Medical Students' Activities (CIMSA) FK USK secara daring, Minggu, 28 Juni 2026.

Forum internasional yang diikuti lebih dari 350 peserta dari berbagai negara tersebut tidak berhenti pada ruang seminar. Para mahasiswa justru ditantang merumuskan solusi nyata melalui kompetisi Policy Brief, Scientific Poster, Educational Video, dan Essay, yang berfokus pada pelayanan kesehatan bagi pengungsi dan masyarakat terdampak krisis kemanusiaan.

Seluruh gagasan yang disusun peserta diarahkan pada pendekatan berbasis bukti (evidence-based), sehingga tidak hanya menjadi karya ilmiah, tetapi juga berpotensi menjadi rekomendasi bagi penguatan layanan kesehatan di tengah situasi darurat kemanusiaan.

Bagi Aceh, tema tersebut bukan sekadar isu internasional. Provinsi ini berulang kali menjadi tempat berlabuh pengungsi dari berbagai negara, sehingga persoalan kesehatan, perlindungan, dan kemanusiaan menjadi bagian dari realitas yang pernah dihadapi masyarakat. Dari pengalaman itu, forum ini menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan perspektif lokal dengan tantangan global.

Pembahasan mengenai isu tersebut diperkaya melalui kuliah umum yang disampaikan dr. Lukman Hakim dari Médecins Sans Frontières (MSF) Spanyol mengenai pelayanan kesehatan di wilayah krisis kemanusiaan. Sementara Lintang Kinasih Wijayani dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Indonesia mengulas perlindungan dan hak kesehatan bagi para pengungsi.

Dr. Lukman Hakim dari MSF Spanyol. dr. Lukman Hakim dari Médecins Sans Frontières (MSF) Spanyol menyampaikan kuliah umum mengenai tantangan pelayanan kesehatan di wilayah krisis kemanusiaan pada GALAXY 3.0 x WORLD 2026. (Foto: Dok. Untuk RRI)

Diskusi kemudian diperluas melalui panel bersama perwakilan International Federation of Medical Students' Associations (IFMSA) dari Indonesia, India, dan Turki. Beragam pengalaman lintas negara memperlihatkan bahwa tantangan pengungsian tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi ataupun satu negara, melainkan membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan.

Keunikan lain forum ini adalah penyatuan enam Standing Committee IFMSA dalam satu platform diskusi. Pendekatan multidisipliner tersebut memungkinkan isu pengungsian dikaji dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek pelayanan kesehatan, pendidikan, advokasi, hingga kesehatan masyarakat.

Project Officer GALAXY 3.0 x WORLD 2026, Adib Fathurrahman Eminel, mengatakan forum tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk membangun solusi yang inovatif, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

"Sinergi antarprofesi dan antarbangsa merupakan kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak krisis maupun pengungsian," ujarnya.

Senada dengan itu, Local Coordinator CIMSA FK USK, Ikhwan Syafawi, berharap forum tersebut menjadi awal dari gerakan yang berkelanjutan. Menurutnya, mahasiswa memiliki kepedulian sekaligus kapasitas untuk menjawab persoalan global melalui aksi nyata, termasuk mengadvokasi isu pengungsi di komunitas masing-masing.

Melalui GALAXY 3.0 x WORLD 2026, mahasiswa tidak hanya bertukar gagasan lintas negara. Mereka juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kemanusiaan dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi, inovasi, dan kolaborasi yang berpotensi memberi manfaat bagi masyarakat yang hidup dalam situasi paling rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....