Solidaritas Perempuan Aceh Soroti Dampak Sosial dan Trauma Korban TPPO

  • 28 Mei 2026 15:28 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Solidaritas Perempuan (SP) Aceh menyoroti dampak sosial dan psikologis yang dialami perempuan dan anak korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Organisasi tersebut menilai kasus TPPO tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi korban dan keluarganya.

Koordinator Program SP Aceh, Dona Kanseria mengatakan, TPPO menjadi persoalan yang terus meningkat setiap tahun. Menurutnya, perempuan dan anak yang menjadi korban membutuhkan pendampingan serius untuk memulihkan kondisi psikologis dan sosial mereka.

“Korban TPPO mengalami trauma yang mendalam. Selain itu juga ada stigma yang melekat pada perempuan dan anak korban sehingga mereka membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan,” kata Dona Kanseria dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Senin 25 Mei 2026.

Ia menjelaskan, SP Aceh selama ini aktif melakukan kerja-kerja pemberdayaan dan edukasi di komunitas perempuan akar rumput. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar perempuan dan anak tidak mudah terjebak dalam praktik perdagangan orang berkedok penyaluran tenaga kerja.

Menurut Dona, salah satu faktor yang membuat perempuan rentan menjadi korban TPPO adalah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Kondisi ekonomi masyarakat yang semakin berat membuat sebagian warga tergiur dengan tawaran kerja di luar negeri tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi.

“Banyak masyarakat kehilangan sumber mata pencarian sehingga mereka berinisiatif mencari pekerjaan ke luar negeri tanpa melihat risiko yang akan terjadi. Apalagi ada calo-calo yang menjanjikan penghasilan besar,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, Dona menilai adanya anggapan bahwa bekerja di luar negeri dapat meningkatkan status sosial juga menjadi pemicu meningkatnya minat masyarakat menjadi pekerja migran. Tidak sedikit warga yang melihat bekerja di luar negeri sebagai jalan cepat membantu ekonomi keluarga.

SP Aceh berharap edukasi mengenai migrasi aman dan bahaya TPPO terus diperkuat hingga tingkat komunitas. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap berbagai modus perekrutan ilegal yang dapat membahayakan perempuan dan anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....