Kepunahan Lokal Mengintai Gajah Sumatera

  • 30 Mar 2026 22:52 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Keberlangsungan hidup gajah Sumatera sangat bergantung pada ketersediaan ruang habitat yang luas. Communication and Education Manager WWF Indonesia, Diah R. Sulistiowati, menyebut satwa ini membutuhkan area jelajah besar karena berperan sebagai “satwa payung” yang turut melindungi ekosistem dan satwa lain.

Dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Sabtu 28 Maret 2026, Diah menjelaskan kondisi gajah di Aceh memiliki tantangan serupa dengan wilayah lain di dunia, terutama terkait keterbatasan habitat.

Ia mengatakan, hingga saat ini data pasti jumlah populasi gajah di Aceh masih dalam proses pengkajian bersama pemerintah melalui Kementerian Kehutanan. Survei tersebut memerlukan dukungan anggaran besar untuk mendapatkan angka yang akurat.

Meski demikian, beberapa wilayah seperti Bener Meriah dan Takengon dinilai masih memiliki kondisi populasi yang relatif baik. Namun, ancaman tetap ada seiring menyempitnya habitat alami gajah.

Diah mengungkapkan, salah satu risiko serius yang dihadapi adalah kepunahan lokal di sejumlah wilayah di Sumatera. Kondisi ini terjadi ketika populasi gajah terisolasi dan tidak lagi dapat berinteraksi dengan kelompok lain.

“Ketika populasi terpisah, gajah cenderung berkembang biak dalam kelompok yang sama, sehingga berisiko terhadap kualitas genetik dan memperpendek usia hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat mempercepat kepunahan jika tidak segera ditangani melalui upaya konservasi yang berkelanjutan.

WWF mengingatkan pentingnya menjaga konektivitas habitat serta melindungi kawasan hutan sebagai ruang hidup gajah. Upaya ini dinilai krusial untuk memastikan kelestarian gajah Sumatera dan keseimbangan ekosistem di masa depan.

Dikutip dari forestdigest, saat ini, Aceh merupakan rumah bagi 500 populasi gajah dari 1.000-1.300 individu gajah liar yang diperkirakan ada di Sumatera (data 2019). Angka ini turun drastis bila dibandingkan dengan populasi gajah pada 2007 yaitu sebanyak 2.400-2.800 individu gajah liar di Sumatera.

Di Aceh, usaha memantau kawanan gajah dilakukan dengan pamasangan GPS Collar. Terutama pada tujuh kelompok besar. LSM bersama BKSDA juga mengawasi tempat-tempat perlintasan gajah yang berpotensi mendorong konflik.

Gajah Sumatera merupakan subspesies gajah yang berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN, satu langkah lagi menuju punah di alam liar. Gajah membutuhkan ruang gerak besar dan makanan yang banyak. Habitatnya makin menipis akibat diokupasi oleh manusia menjadi perkebunan, persawahan, permukiman. Manusia tak bisa berbagi ruang dengan satwa liar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....