WWF: Krisis Habitat Ancam Kelangsungan Gajah Sumatera di Aceh

  • 28 Mar 2026 16:14 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Kelangsungan hidup Gajah Sumatera di Aceh kian terancam akibat penyusutan habitat hutan yang semakin masif. Kondisi ini memicu konflik berkepanjangan antara manusia dan satwa liar tersebut.

Hal itu disampaikan Communications & Education Manager WWF Indonesia, Diah R. Sulistiowati dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada program Green Radio, Sabtu 28 Maret 2026.

Menurut Diah, ancaman terbesar bagi Gajah Sumatera adalah hilangnya kawasan hutan sebagai habitat utama. Deforestasi akibat pembalakan ilegal serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan, khususnya kelapa sawit, dan permukiman, terus mempersempit ruang hidup gajah.

“Habitat gajah semakin terfragmentasi dan mengecil, sehingga mereka kehilangan sumber pakan alami dan jalur jelajahnya,” ujarnya.

Kondisi tersebut memaksa gajah liar keluar dari hutan dan memasuki wilayah permukiman serta kebun warga. Dengan kebutuhan makan mencapai sekitar 200 kilogram per hari untuk seekor gajah dewasa, keberadaan mereka di area pertanian sering menimbulkan kerusakan tanaman dan kerugian bagi masyarakat.

Communications & Education Manager WWF Indonesia, Diah R. Sulistiowati saat menjadi narasumber dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada program Green Radio, Sabtu 28 Maret 2026 (Foto: RRI)

Konflik ini, lanjut Diah, tidak jarang berujung pada kematian gajah. Sejumlah kasus menunjukkan satwa dilindungi itu mati akibat diracun, terkena jerat, tersengat listrik dari pagar kebun, hingga diburu secara ilegal untuk diambil gadingnya.

Upaya penanganan konflik oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga menghadapi berbagai kendala. Selain keterbatasan anggaran dan personel, gajah kerap enggan kembali ke hutan karena habitatnya telah terganggu aktivitas manusia, seperti pembalakan liar.

“Gajah tidak mau kembali karena habitatnya sudah tidak aman lagi. Ini menjadi tantangan besar dalam upaya konservasi,” katanya.

Diah menegaskan, solusi jangka panjang yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran untuk berbagi ruang antara manusia dan satwa liar. Perlindungan habitat asli, menjaga koridor jelajah gajah, serta penegakan hukum terhadap pembalakan ilegal menjadi langkah penting agar konflik dapat diminimalisir.

“Kalau habitatnya terjaga, maka potensi konflik bisa ditekan dan manusia serta gajah dapat hidup berdampingan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....