Japnas: WFH Jumat Bisa Jadi Rem Ekonomi, Hemat BBM

  • 28 Mar 2026 16:06 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh : Wacana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan kian menguat di tengah tekanan global akibat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Dunia usaha mendorong skema paling efektif, yakni WFH diberlakukan pada hari Jumat, sehingga menciptakan pola tiga hari berturut-turut yang berdampak langsung terhadap konsumsi energi dan aktivitas ekonomi nasional.

Indonesia saat ini mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik masih berada di kisaran 600 ribu barel. Dalam kondisi tersebut, setiap kenaikan harga minyak global akan langsung menekan APBN, terutama dari sisi subsidi dan impor energi.

WFH satu hari dinilai sebagai langkah cepat yang bisa menekan konsumsi BBM tanpa membutuhkan kebijakan fiskal besar. Dengan pengurangan mobilitas pada hari Jumat, yang terhubung dengan Sabtu dan Minggu, potensi efisiensi energi menjadi lebih besar karena terjadi penurunan aktivitas selama tiga hari berturut-turut.

Jika mobilitas turun hingga 20% dalam satu hari kerja, maka penghematan konsumsi BBM bisa signifikan. Efek lanjutannya adalah berkurangnya impor minyak, menurunnya tekanan terhadap subsidi energi, serta menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Namun, kebijakan ini juga membawa dampak ke sektor lain. Aktivitas transportasi, ojek online, hingga UMKM di kawasan perkantoran berpotensi melambat pada hari Jumat. Sebaliknya, sektor digital dan layanan berbasis rumah diperkirakan meningkat, seiring perubahan pola kerja dan konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, sektor pariwisata dan perjalanan antarkota juga berpotensi terdorong. Pola tiga hari ini membuka peluang masyarakat untuk bepergian lebih panjang. Kondisi ini perlu diwaspadai agar tidak berubah menjadi libur panjang terselubung yang justru meningkatkan mobilitas dan konsumsi BBM.

Ketua Harian Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Aceh yang juga pengurus pusat Kadin Indonesia, Mahfudz Y Loethan, menilai kebijakan ini sebagai langkah adaptif yang relevan di tengah tekanan global.

“WFH Jumat ini bisa menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi energi dan menjaga stabilitas ekonomi."Tapi harus diantisipasi agar tidak berubah menjadi long weekend yang justru meningkatkan mobilitas,” ujar Mahfudz. Jumat, 27 Maret 2026.

Ia menambahkan, kebijakan ini juga memiliki nilai tambah bagi masyarakat, khususnya umat Muslim. “Bagi umat Muslim, WFH di hari Jumat memberi ruang untuk memaksimalkan ibadah dengan lebih tenang tanpa tekanan mobilitas. Ini menjadi nilai positif, selama tetap dijalankan dengan tanggung jawab,” kata alumni Lemhannas ini.

Menurutnya, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada disiplin pelaksanaan dan keseimbangan dampak terhadap sektor ekonomi. “Jangan sampai niatnya menghemat energi, tapi di lapangan justru terjadi pemborosan baru. Ini harus dijaga agar tetap on track,” tegasnya.

Di tengah tekanan global yang belum mereda, WFH Jumat mulai dilihat sebagai salah satu instrumen cepat untuk meredam dampak eksternal terhadap ekonomi nasional, dengan catatan implementasinya tetap terukur dan terkendali.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....