Begini Pendapat Ahli soal Lubang Raksasa Ketol Aceh Tengah
- 28 Feb 2026 20:43 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Fenomena amblesnya tanah yang membentuk lubang raksasa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus menjadi sorotan. Dalam perbincangan bertajuk “Lubang Raksasa Ketol: Sinkhole atau Ngarai? Menguak Misteri Geologi Aceh Tengah” yang disiarkan RRI Banda Aceh, Selasa 24 Februari 2026 para ahli dan instansi terkait memaparkan temuan serta langkah mitigasi atas kejadian tersebut.
Bagaimana penyebab terbentuknya lubang yang terus meluas itu, apakah merupakan sinkhole akibat pelarutan batu kapur atau ngarai yang terbentuk karena longsoran dan erosi air.
Ahli Geologi Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Bambang Setiawan, menyebut terdapat tiga hipotesis yang masih dikaji, yakni longsoran biasa, erosi bawah permukaan (erosional piping), atau sinkhole yang dipicu patahan maupun gempa masa lalu.
“Dari uji geolistrik awal ditemukan adanya lensa air di bawah tanah. Ini perlu kajian lanjutan untuk memastikan mekanismenya,” ujarnya.
Ia menyarankan mitigasi jangka pendek dengan mengendalikan aliran air permukaan agar tidak mengarah ke lokasi amblesan guna mencegah perluasan.
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Andrian Tohari, menilai fenomena tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai longsoran akibat erosi bawah permukaan, bukan sinkhole klasik.
| Baca juga: BRIN: Fenomena Ketol Bukan Sinkhole Klasik |
Menurutnya, batuan di kawasan tersebut didominasi endapan vulkanik muda yang tidak memiliki karakter batu gamping berongga seperti pada kasus sinkhole pada umumnya.
“Material vulkanik yang poros dan mudah jenuh air sangat rentan mengalami erosi bawah permukaan, apalagi saat curah hujan tinggi,” jelasnya.
Ia merekomendasikan pengendalian air tanah, penguatan lereng, serta pembangunan sistem subdrain sebagai solusi teknis mitigasi.
Data dari Dinas ESDM Aceh menunjukkan lubang tersebut mengalami perluasan signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir. Ikhlas dari Dinas ESDM Aceh menyebutkan, pada 2012 luas area terdampak sekitar 7.000 meter persegi, dan kini telah melampaui 20.000 meter persegi.
Ia menekankan pentingnya mitigasi struktural dan non-struktural, termasuk edukasi berkelanjutan kepada masyarakat sekitar.
Di lapangan, kondisi masih dinilai rawan. Perwakilan BPBD Aceh Tengah, Atika Pratiwi, menyampaikan potensi longsor susulan masih tinggi, terutama saat musim hujan.
Pemerintah daerah telah mengalihkan sebagian besar debit aliran drainase agar tidak masuk ke lubang, serta menyiapkan jalan alternatif karena akses utama antar kampung telah terputus. Kawasan tersebut saat ini merupakan zona bahaya. Masyarakat diimbau tetap waspada, tidak panik, dan tidak mendekati area longsoran demi keselamatan.
Kajian geologi bawah permukaan secara komprehensif masih diperlukan untuk menentukan penanganan jangka panjang yang paling tepat bagi kawasan terdampak di Aceh Tengah tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....