BRIN: Fenomena Ketol Bukan Sinkhole Klasik
- 28 Feb 2026 00:08 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr. Adrin Tohari, dalam program Banda Aceh Menyapa Selasa 24 Februari 2026, menegaskan fenomena lubang raksasa di Ketol bukan sinkhole klasik. Ia menyebut peristiwa itu lebih tepat sebagai longsoran akibat erosi bawah permukaan.
Menurutnya, sinkhole umumnya terjadi pada batu gamping berongga yang runtuh karena pelarutan. Sementara di Ketol, kondisi geologinya didominasi endapan gunung api muda. Ia menjelaskan, longsoran dipicu rembesan air di kaki lereng yang menggerus material rapuh. Saat musim hujan, muka air tanah naik dan melemahkan lapisan tanah.
Bagian kaki lereng yang tergerus membuat tebing curam kehilangan penyangga. Kondisi itu memicu runtuhan bertahap dari bawah ke atas. “Fenomena ini lebih tepat disebut longsoran akibat erosi bawah permukaan,” ujarnya dalam Dialog Banda Aceh. Ia menambahkan, proses masih aktif selama musim hujan berlangsung.
Adrin menyebut pengaruh air permukaan dan air tanah sangat dominan dalam kasus ini. Zona jenuh air membuat material vulkanik menjadi lemah dan mudah runtuh. Ia juga menilai pengendalian air menjadi kunci stabilisasi lereng. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah pengaturan muka air tanah.
Selain itu, diperlukan investigasi komprehensif seperti pemboran dan survei geofisika. Langkah ini penting untuk memastikan pemicu utama sebelum penanganan jangka panjang dilakukan. Adrin mengingatkan, tanpa kajian menyeluruh, risiko meluasnya longsoran tetap ada. Ia berharap upaya mitigasi dilakukan cepat agar infrastruktur dan warga tidak terdampak lebih besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....