Pemantauan Hilal Jadi Sarana Edukasi Astronomi bagi Masyarakat
- 18 Feb 2026 15:04 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Pemantauan hilal menjelang penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah tidak hanya menjadi bagian dari proses keagamaan, tetapi juga berperan sebagai sarana edukasi dan peningkatan literasi sains di tengah masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mata Ie Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin, mengatakan kegiatan rukyatul hilal dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran astronomi yang aplikatif dan mudah dipahami publik.
Menurutnya, masyarakat dapat mengenal konsep-konsep dasar astronomi seperti konjungsi (ijtimak), ketinggian hilal, elongasi, hingga fase bulan melalui kegiatan pengamatan langsung. “Pemantauan hilal bukan sekadar melihat bulan sabit, tetapi juga memahami proses ilmiah di balik pergerakan benda langit,” ujar Andi di sela pengamatan hilal di gedung pusat observatorium Tgk. Chik Kuta Karang Lhoknga Aceh Besar Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan, BMKG secara rutin menyediakan data hisab serta memfasilitasi observasi hilal yang dapat diakses masyarakat, termasuk melalui siaran langsung di kanal resmi. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi sekaligus pemahaman publik terhadap metode penentuan awal bulan Hijriah.
Selain itu, keterlibatan pelajar, mahasiswa, dan komunitas astronomi dalam kegiatan rukyat dinilai mampu menumbuhkan minat generasi muda terhadap ilmu falak dan sains kebumian. Edukasi berbasis praktik lapangan dinilai lebih efektif dibandingkan pembelajaran teori semata.
Andi Azhar Rusdin menambahkan, pendekatan ilmiah dalam pemantauan hilal juga memperkuat pemahaman bahwa sains dan agama dapat berjalan selaras. “Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menunggu hasil sidang isbat, tetapi juga memahami dasar ilmiah yang digunakan,” katanya.
Andi menjelaskan, berdasarkan hasil perhitungan astronomi, posisi hilal di wilayah Aceh saat matahari terbenam telah memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan. Secara umum, tinggi hilal dan elongasi menunjukkan peluang terlihatnya bulan sabit muda di sejumlah titik pengamatan.
“Ketinggian hilal setiap awal bulan Hijirah dimana pada setiap 29 hijriah itu kita melakukan pengamatan, kami memenuhi undangan Kanwil Kemenag Aceh untuk melakukan pengamatan hilal sekaligus edukasi kepada masyarakat. Berdasarkan data yang kami peroleh bahwa hilal masih berada di bawah ufuk ,” ungkap Andi.
“Secara astronomis, parameter ketinggian hilal dan sudut elongasi sudah berada pada rentang yang memungkinkan untuk teramati, tergantung pada kondisi cuaca saat pengamatan berlangsung,” ujar Andi Azhar Rusdin.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa faktor cuaca seperti tutupan awan dan kejernihan atmosfer sangat menentukan keberhasilan rukyatul hilal. Karena itu, BMKG juga memantau prakiraan cuaca pada hari pelaksanaan pengamatan untuk memastikan potensi visibilitas hilal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....