MPU Aceh: Stop Persulit Nikah Karena Gengsi

  • 31 Jan 2026 15:59 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tg. Faisal Ali, menyoroti potensi tekanan sosial terkait tinggi rendahnya mahar pernikahan yang dapat menjadi hambatan bagi generasi muda di Aceh. Pernyataan itu disampaikan dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Rabu (28/1/2026).

Menurut Tg. Faisal, ukuran sosial dalam masyarakat saat ini telah bergeser dari ketentuan agama. “Kalau agama mengatakan inna akramakum indallahi atakum, orang yang dimuliakan Allah adalah orang yang bertakwa. Jadi kemuliaan rumah tangga bukan pada jumlah mas kawin, tapi pada ketakwaan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai agama dan kontribusi hidup seseorang bagi masyarakat serta lingkungan sekitarnya yang seharusnya menjadi ukuran utama. “Yang dihormati itu bukan besarnya mahar, tapi bagaimana seseorang bermanfaat bagi lingkungannya,” tambah Tg. Faisal.

Tg. Faisal juga mengingatkan bahwa saat ini banyak masyarakat terjebak pada gengsi. “Sekarang zaman gengsi-gengsian. Tidak punya uang, tapi penampilan ingin mewah. Ada sepeda motor mahal, HP hingga 20 juta, bahkan satu orang punya tiga HP. Itu semua bukan kebutuhan, tapi ego dan penampilan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menempatkan mahar sesuai kemampuan masing-masing keluarga. “Mahar tinggi atau rendah harus disesuaikan kemampuan. Jangan sampai tekanan sosial membuat calon pengantin terbebani,” kata Tg. Faisal.

MPU Aceh berharap masyarakat dapat mengembalikan makna mahar sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab, bukan ajang pamer atau kompetisi status sosial.

“Pesan kami, mari pahami bahwa nilai sejati rumah tangga adalah ketakwaan, bukan nominal mahar. Dengan cara ini, pernikahan dapat terlaksana tanpa beban yang tidak perlu,” pungkas Tg. Faisal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....