Pengamat: Skala Usaha Kecil, Petani Aceh Belum Sejahtera

  • 30 Sep 2025 20:48 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Petani di Aceh dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk bisa sejahtera, terutama karena skala usaha pertanian yang tergolong kecil. Hal ini disampaikan Pengamat Pertanian, Dr. Ir. Romano, MP, dalam dialog bersama RRI Banda Aceh, Rabu (24/9/2025).

Menurut Romano, sebagian besar petani di Aceh masih menggarap lahan yang sempit, khususnya di kawasan padat penduduk di pesisir timur.

“Sawah petani banyak yang hanya seperempat hektare, bahkan ada yang menyebut tinggal dua nalih bijih. Dengan skala sekecil itu sulit untuk menyejahterakan keluarga,” jelasnya.

Ia menegaskan, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya menempatkan petani sebagai profesi penting sekaligus penyangga ketahanan pangan nasional. Jika dikelola dengan baik, hasil pertanian Indonesia juga berperan penting bagi kebutuhan global.

“Komoditas seperti kopi dan kakao dari Indonesia sangat ditunggu pasar dunia. Kalau pasokan dari Indonesia dan Amerika Selatan terganggu, industri di Eropa bisa kelabakan,” tambah Romano.

Untuk itu, Romano menilai sudah saatnya ada reformasi kepemilikan lahan bagi petani agar mampu meningkatkan skala usaha.

“Idealnya, untuk tanaman pangan minimal satu hektare per keluarga. Sementara untuk kebun kopi, dengan dua hektare saja petani sudah bisa hidup sejahtera,” ujarnya.

Romano mencontohkan kondisi petani kopi di dataran tinggi Gayo yang relatif lebih sejahtera dibanding petani padi di wilayah pesisir timur-utara Aceh, yang banyak masih berada di bawah garis kemiskinan.

Ia menekankan pentingnya pelatihan, pendampingan, serta kebijakan reformasi lahan sebagai solusi jangka panjang.

“Kalau sektor pertanian ditata ulang, petani bukan hanya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, tapi juga memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan ketahanan negara,” pungkas Romano.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....