Aceh Bangkitkan Kembali Tari Seudati yang Terlupakan
- 25 Feb 2025 13:17 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh : Budaya Aceh semakin tergerus oleh budaya luar yang semakin mendominasi masyarakat, terutama pengaruh besar dari luar negeri. Selain itu, konflik yang pernah melanda Aceh turut menjadi faktor yang memperburuk kondisi budaya tradisional.
Budayawan Aceh Cut Nyak Dewi Anggraini kepada RRI mengatakan, dulu dibeberapa daerah di Aceh, baik di pesisir maupun pedalaman, Tari Seudati, Rapa'i dan Hikayat Prang Sabi sempat dilarang di beberapa tempat. "Di daerah Pidie misalnya, Tari Seudati sempat dilarang, karena dianggap membangkitkan semangat juang rakyat Aceh," ujarnya Selasa (25/2/2025).
Menurut Cut Nyak Dewi, itu salah satu dari sekian banyak penyebab kebudayaan tersebut tidak berkembang dan seakan terhenti untuk beberapa waktu. Kini, upaya membangkitkan kembali seni tradisi tersebut mulai dilakukan.
Disebutkannya, para budayawan dan pegiat seni berusaha menghidupkan kembali Tari Seudati yang sempat terpinggirkan. Meskipun demikian, usaha ini masih menemui beberapa kendala yang perlu diperhatikan agar seni budaya Aceh bisa kembali diterima dengan baik di kalangan masyarakat.
Salah satu kendala utama yang ditemukan adalah kurangnya pemahaman masyarakat awam tentang makna Tari Seudati. Banyak orang yang menganggap tarian ini tidak memiliki nilai atau makna yang relevan dengan kehidupan mereka.
Dijelaskannya, Tari Seudati mengandung makna mendalam, baik dari segi keislaman, filosofi, maupun sejarah perjuangan Aceh. Setelah diberikan penjelasan yang lebih jelas mengenai filosofi dan nilai-nilai tersebut, masyarakat mulai membuka diri dan menerima kembali seni tradisional ini.
Mereka mulai menyadari bahwa Tari Seudati bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan sejarah yang harus dijaga. Untuk mempopulerkan kembali Tari Seudati dan tradisi lainnya, masyarakat mulai mengadakan berbagai lomba dan pertunjukan seni.
Upaya ini memberikan harapan bagi pelestarian budaya Aceh, sehingga generasi muda dapat kembali mengenal identitasnya. "Selain itu diharapkan dapat melestarikan tradisi yang telah ada sejak lama, menjadikannya bagian dari kebanggaan budaya lokal yang berharga," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....