Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Aceh

  • 28 Okt 2024 09:03 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh merupakan sebuah tradisi yang kaya makna dan berakar kuat dalam budaya masyarakat setempat. Dikenal sebagai momen sakral, Maulid di Aceh bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah wujud penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah.

Melansir laman Majelis Adat Aceh (MAA), perayaan Maulid Nabi di Aceh sudah ada sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, bahkan sebelum kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Pada abad ke-17, masyarakat Aceh mengadakan Maulid sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman Islam di kalangan anak-anak, masyarakat, dan generasi penerus.

Upaya ini dilakukan untuk memperdalam pemahaman Islam di kalangan masyarakat dan generasi mendatang. Selain itu, tujuan lainnya adalah memperkuat iman dan cinta kepada Rasulullah melalui penyelenggaraan kenduri yang besar dan istimewa.

Nilai yang terkandung dalam perayaan Maulid adalah ketaatan kepada Allah SWT, yang berarti mengikuti dan mencintai Rasulullah.

Salah satu aspek khas dari perayaan Maulid di Aceh adalah perhatian yang diberikan kepada anak yatim, fakir miskin, dan kaum duafa. Dalam setiap kenduri, mereka diprioritaskan untuk menerima kasih sayang dan perhatian, serta berbagi makanan bersama, sehingga menciptakan tatanan sosial yang lebih baik.

Perayaan Maulid di Aceh berlangsung selama tiga bulan dan sepuluh hari, yang dibagi menjadi tiga fase: Maulid Awal, Maulid Tengah, dan Maulid Akhir. Perayaan dimulai pada bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai buleuen molod (maulid awal), dilanjutkan pada bulan Rabiul Akhir, yang disebut buleuen adoe molod (maulid pertengahan), dan diakhiri pada bulan Jumadil Awal, yang disebut buleuen molod seuneulheuh (maulid akhir).

Menurut informasi dari dinasdayahaceh.acehprov.go.id, tradisi perayaan Maulid Nabi di Aceh telah ada sejak masa Sultan Ali Mughayat Syah, pendiri Kerajaan Aceh. Dalam surat wasiat Sultan yang diterbitkan pada 12 Rabiul Awal 913 Hijriah (23 Juli 1507), disebutkan bahwa pelaksanaan Maulid Nabi dapat memperkuat tali silaturahmi antar kampung di Kerajaan Aceh Darussalam.

Namun, tidak ada catatan jelas mengenai apakah tradisi Maulid pada masa itu mirip dengan kenduri Maulid yang ada saat ini. Pada masa kesultanan Aceh, perayaan Maulid Awal dilaksanakan di tingkat gampong atau meunasah, Maulid Tengah diadakan di tingkat kemukiman atau di masjid-masjid besar, sementara Maulid Akhir diselenggarakan oleh para raja dan ulee balang, yang mengundang seluruh masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....