Ramadan sebagai Madrasah Rohani, Awal Menjaga Istikamah

  • 29 Mar 2026 13:45 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Ramadan bukan sekadar bulan ibadah tahunan, tetapi merupakan madrasah rohani yang membentuk karakter dan jiwa seorang muslim. Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kesabaran, serta menahan diri dari berbagai hal yang dapat merusak nilai spiritual. Momentum ini seharusnya tidak berhenti saat Ramadan berakhir, melainkan menjadi titik awal untuk menjaga konsistensi amal di bulan-bulan berikutnya.

Memasuki bulan Syawal, tantangan terbesar seorang muslim adalah mempertahankan semangat ibadah yang telah dibangun selama Ramadan. Banyak orang merasakan penurunan kualitas ibadah setelah bulan suci berlalu. Hal ini menjadi refleksi penting bahwa Ramadan seharusnya meninggalkan bekas yang kuat dalam kehidupan spiritual, bukan sekadar rutinitas yang datang dan pergi setiap tahun.

Guru Besar Fiqh UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Husni Mubarrak A. Latief, LC, MA dalam dialog interaktif di RRI Pro 1 Banda Aceh, Jumat 27 Maret 2026. Menegaskan bahwa Ramadan adalah sarana pendidikan jiwa yang sangat komprehensif. “Ramadan itu adalah tarbiyah ruhiyah, pendidikan rohani yang membentuk karakter kita. Maka sangat disayangkan jika setelah Ramadan berlalu, kita kembali seperti sebelumnya tanpa perubahan yang berarti,” ujarnya.

Menurut beliau, penting bagi setiap muslim untuk mensyukuri keberhasilan melewati Ramadan sekaligus berharap agar seluruh amal ibadah diterima oleh Allah SWT. Namun, rasa syukur tersebut harus diwujudkan dalam bentuk konsistensi amal. Kebiasaan baik seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga salat berjamaah perlu terus dipelihara meskipun tidak seintens saat Ramadan.

Istikamah menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas iman setelah Ramadan. Dalam konteks ini, istikamah bukan berarti melakukan semua amal secara sempurna, melainkan menjaga kesinambungan amal sesuai kemampuan. Prinsip “jika tidak mampu melakukan semuanya, jangan tinggalkan semuanya” menjadi pegangan penting dalam kehidupan seorang muslim.

Dengan demikian, Ramadan seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar fase sementara. Ketahanan dalam beramal atau endurance spiritual menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam memaknai Ramadan. Semakin kuat daya tahan tersebut, semakin besar pula dampak positif Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....