Menjaga Endurance Ibadah Pasca-Ramadan

  • 29 Mar 2026 13:22 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Semangat ibadah yang meningkat drastis selama Ramadan seringkali mengalami penurunan setelah bulan suci berakhir. Fenomena ini menjadi perhatian penting dalam kehidupan umat Islam, karena menunjukkan bahwa banyak yang masih memandang ibadah sebatas momentum, bukan kebutuhan spiritual yang berkelanjutan.

Dalam perspektif fikih dan spiritual Islam, Ramadan memang memiliki keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya, seperti pahala yang berlipat ganda dan suasana religius yang lebih kuat. Namun, hal ini tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan seseorang beribadah dengan sungguh-sungguh. Ibadah yang bergantung pada momentum semata menunjukkan bahwa kualitas keimanan belum stabil.

Prof. Dr. Husni Mubarrak A. Latief, LC, MA dalam dialog interaktif di RRI Pro 1 Banda Aceh, Jumat 27 Maret 2026. Menjelaskan bahwa ibadah yang hanya didorong oleh besarnya ganjaran dapat menempatkan seseorang pada tingkat yang rendah dalam beragama. “Kalau kita beribadah hanya karena ganjaran yang besar di bulan Ramadan, maka kita seperti ibadahnya seorang budak. Ketika ganjarannya besar kita rajin, ketika tidak, kita menjadi malas,” jelasnya.

Beliau menambahkan bahwa idealnya, kualitas iman seseorang terus meningkat seiring bertambahnya usia dan pengalaman spiritual. Ramadan seharusnya menjadi sarana peningkatan tersebut, bukan sekadar lonjakan sesaat yang kemudian menurun kembali. Minimal, ada sebagian kebiasaan baik yang tetap bertahan setelah Ramadan berakhir.

Salah satu contoh sederhana adalah menjaga ibadah wajib seperti salat fardu yang tetap menjadi prioritas utama di dalam maupun di luar Ramadan. Selain itu, amal-amal sunah seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan salat rawatib juga perlu dipertahankan meskipun dalam porsi yang lebih ringan. Konsistensi dalam amal inilah yang menjadi indikator ketahanan spiritual seorang muslim.

Pada akhirnya, endurance dalam beribadah sangat erat kaitannya dengan kesabaran. Sabar bukan hanya dalam menghadapi musibah atau menahan diri dari maksiat, tetapi juga dalam menjaga kontinuitas amal kebaikan. “Istikamah itu sejatinya adalah sabar dalam menjaga amal secara terus-menerus,” tutup Prof. Husni.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....