Makna Puasa ketika Hati Ridha atau Terpaksa
- 11 Mar 2026 10:20 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk melatih keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini disampaikan Tgk. Wahyu Mimbar, S.Pd.I., M.Ag. selaku Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh dalam dialog bersama Pro4 RRI Banda Aceh, pada Selasa, 10 maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa puasa yang dijalankan dengan penuh kerelaan hati akan menghadirkan ketenangan batin serta meningkatkan kualitas ibadah seseorang. Menurutnya, keikhlasan menjadi kunci utama agar puasa tidak hanya bernilai sebagai kewajiban yang ditunaikan, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Puasa yang dijalani dengan hati ridha akan terasa lebih ringan dan bermakna. Seseorang akan menjalankannya dengan penuh kesadaran bahwa ibadah tersebut merupakan bentuk ketaatan dan rasa syukur,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa tidak sedikit orang yang pada awalnya menjalankan puasa karena merasa terpaksa, baik karena kewajiban agama, dorongan lingkungan, maupun kebiasaan masyarakat. Meski begitu, kondisi tersebut dapat menjadi pintu awal untuk menumbuhkan kesadaran dan keikhlasan dalam beribadah.
“Dalam prosesnya seseorang bisa belajar memahami hikmah puasa, seperti melatih kesabaran, menumbuhkan empati terhadap sesama, serta mengendalikan hawa nafsu. Dengan memahami nilai-nilai tersebut, puasa yang awalnya terasa berat dapat berubah menjadi ibadah yang dijalani dengan penuh kerelaan,”jelasnya.
Wahyu menambahkan bahwa Ramadan adalah kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas spiritual. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan puasa sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan sosial dengan sesama.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki niat. Jika awalnya terasa terpaksa, jadikan Ramadan sebagai proses belajar menuju keikhlasan,” katanya.